Apakah Qur’an sudah Komplit dan Mudah Dimengerti?

6 Juli 2009 at 11:03 am (Artikel Inti)

Bab 01

Apakah Qur’an sudah komplit dan mudah dimengerti?

Saya mulai bahasan ini dengan pertanyaan ini karena inilah pertanyaan paling fundamental yang berhubungan dengan kebergantungan Kaum Muslim terhadap buku lain sebagai tambahan pada Qur’an.

Tanyakan pertanyaan ini – “Apakah Qur’an komplit dan mudah dimengerti?”- kepada Muslim manapun saat ini, dan jawaban spontannya mungkin akan “Ya!”. Tetapi, investigasi selanjutnya akan mengungkap bahwa Muslim ini hanya “omong doank” terhadap posisi ini, dan sebenarnya dia tidak benar-benar mempercayai kekomplitan dari Qur’an. Jika anda memperpanjang pertanyaan tadi, anda lalu akan mendengar klaim seperti “Ya, Qur’an memang komplit tapi tetap saja tidak memiliki segalanya.” dan “Ya, Qur’an memang mudah dimengerti, tapi kita tidak bisa memahaminya tanpa buku lain.”

Kita akan lihat bagaimana Qur’an merefutasi klaim-klaim ini:

<Wa laqad sarrafna_ lin na_si fi ha_dhal qur’a_ni min kulli mathalin, fa aba_ aktharun na_si illa_ kufu_ran>

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). “ (Qur’an 17:89)

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (Qur’an 39:27)

Disini, Allah menyatakan bahwa Dia menjelaskan SETIAP MACAM PERUMPAMAAN sebagai bimbingan kita dalam Qur’an. Maka, ketika Allah sendiri menyatakan bahwa setiap macam perumpamaan ada didalam Qur’an, perlukah Kaum Muslim untuk mencari ditempat lain suatu perumpamaan? Disini kita harus menggarisbawahi bahwa karena pendengar awal Qur’an adalah orang-orang yang hidup di kota padang pasir 1400 tahun yang lalu, maka kata perumpamaanpun akan relevan pada keadaan masa itu. Tetapi, pesan dari perumpamaan-perumpamaan ini tetap bisa diaplikasikan sepanjang zaman. Bahkan faktanya, kata “Perumpamaan” dalam definisinya berarti mereferensikan suatu kasus khusus dalam prinsip yang lebih general.

Allah menjelaskan hal ini lebih jauh :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu <wa nazzalna_ ‘alaikal kita_ba tibya_nal likulli shai’iw>, dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qur’an  16:89)

Tidak ada kata-kata yang lebih jelas dari ini. Ketika Allah berkata “likulli shai’iw” yang berarti SEGALA SESUATU. Jika Qur’an sendiri seharusnya sudah menjelaskan segala sesuatu, lalu apa maksudnya menjelaskan Qur’an menggunakan buku lain? Dengan kata lain, ayat diatas menyatakan bahwa TIDAK ADA SATUPUN yang tidak dijelaskan oleh Qur’an. Muslim yang menyatakan bahwa “tidak semua ada di Qur’an”, harus duduk dan berpikir pada ayat-ayat tadi dan juga merenungkan konsekuensi logis dari statemennya tersebut.

Kaum Muslim yang menyatakan bahwa Qur’an tidak jelas dan mereka butuh buku lain untuk bisa mengerti Qur’an haruslah membaca statemen Allah berikut ini :

“Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (Qur’an  39:28)

Allah menyatakan bahwa Qur’an tidak memiliki segala kebengkokan, berarti tidak ada hal yang aneh dalam Qur’an. Ini adalah hal yang sangat logis mengingat bahwa Qur’an memang diperuntukkan untuk semua manusia dan bukan hanya untuk mereka yang memiliki gelar sarjana di bidang Fiqih dan Hadits.

Lalu Allah mengkonfirmasi hal ini, ketika Dia menyatakan empat kali dalam surah yang sama :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran <walaqad yasarnal Qur’ana li-Dhikri>, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

(Qur’an  54:17,22,32,40)

Kecuali kalau Kaum Muslim berpikir bahwa Allah “ngomong ngelantur” Nauzubillah, maka sangat jelas apa yang Dia katakan – Qur’an mudah untuk dimengerti.

Namun demikian, banyak orang enggan mempelajari Al-Qur’an untuk diri mereka sendiri dan hanya melantunkannya seperti burung kakaktua yang tidak memahaminya… setiap saat menyerahkannya kepada mereka yang disebutnya sebagai mitra Tuhan untuk mempelajarinya untuk mereka.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami hanya akan mengikuti apa yang telah dikerjakan oleh nenek moyang kami! ’Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka tidak mengerti apapun dan tidak mendapatkan petunjuk? Dan perumpaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja; mereka tuli, bisu, dan buta, oleh sebab itu mereka tidak mengerti.” (Qur’an  2:170-171)

Kaum Muslim, ketika dihadapkan dengan ayat-ayat tersebut, memakai pendekatan yang lebih defensif dan merevisi statement sebelumnya menjadi “Ya, Qur’an memang komplit dan memiliki segalanya dan mudah untuk dimengerti, tapi KURANG JELAS. Dan karena itu untuk mendapatkan kejelasannya kita harus merujuk pada buku-buku Hadits”. Qur’an sekali lagi merefutasi statement tersebut. Mari kita lihat apa yang Allah katakan tentang detail/kejelasan <Tafseel> dalam KitabNya :

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci<al-kitaaba mufaSSalan>?” (Qur’an  6:114)

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami <faSSalnaahu Ala Ilmin>, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qur’an  7:52)

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya <fuSSilat ayaatahu>,yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,” (Qur’an  41:3)

“Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. <qad faSSalnaa-l-’aayyaati li-qawmin yadhakkaruuna>” (Qur’an  6:126)

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya <tafSiila-l-kitaabi >, tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.” (Qur’an  10:37)

Di depan ayat-ayat ini, Klaim Muslim tersebut sekali lagi berkontradiksi dengan bukti dari Qur’an. Tapi, Muslim tetap saja bersikukuh bahwa Qur’an masih belum jelas/detail. Dengan cahaya dari Qur’an, ini bisa disimpulkan bahwa Muslim tersebut tidak menggunakan akal sehat dan karunia dari Allah yang disebut Aqal (Logika). Allah mengatakan :

“Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. <nufaSSilu-l-’aayaati li qawmin yatafakkaruuna>” (Qur’an  10:24)

“Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. <kadhaalika nufaSSilu ’aayaati li qawmin yaqiluuna>” (Qur’an  30:28)

Maka, mereka yang menolak untuk berpikir dan menggunakan akalnya, dan bersikukuh terhadap segala yang diajarkan orangtua, guru-guru, dan nenekmoyang mereka tanpa kecuali, merekalah orang-orang yang tidak akan menemukan kejelasan dari segala sesuatu dalam Qur’an, dan akan mencari buku lain.

Logisnya, sangat tidak masuk akal apabila ada sebuah Kitab yang seharusnya memberi cahaya dan menjelaskan segala sesuatu, ternyata Kitab tersebut membutuhkan penjelasan.

“Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan. <kitaab il Mubeen>. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).”

(Qur’an  43:2-3)

“Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan, <Kitaab il Mubeen>” (Qur’an  44:2)

“Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. <qad bayyannaa lakumu-l-’aayaati ’in kuntum taqiluuna>” (Qur’an  3:118)

Pembahasan tentang bab ini kita akhiri disini dengan kesimpulan bahwa Qur’an sudah KOMPLIT, dan MUDAH dan MENJELASKAN segala sesuatu yang kita butuhkan sebagai petunjuk dan bimbingan, karena itu tidak perlu melihat buku lain untuk dijadikan petunjuk. Komplit, Mudah, Menjelaskan = SEMPURNA. Haruskah kita mencari sumber lain kalau kita sudah mendapat kalimat Allah yang sempurna dan adil?

“Dan kalimat Tuhanmu telah sempurna, sebagai kalimat yang sempurna dan adil; Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qur’an  6:115)

Saya tambahkan disini bahwa Umat harus didorong untuk berbicara satu sama lain dan membagi ide serta pandangan mereka – masalah muncul ketika ide atau pandangan individu dijadikan sumber petunjuk sebagai TAMBAHAN pada Qur’an. Ini yang dikatakan Allah tentang mereka :

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Qur’an  29:51)

Tetapi Kaum Muslim, menolak “Rahmat” ini dan mengikat diri mereka dalam belenggu Hadits dan tradisi, dan tetap bersikukuh bahwa Kitab Allah belum cukup untuk mereka. Dan masih banyak umat Muslim yang ragu bahkan setelah menyaksikan semua bukti-bukti tersebut. Mereka tidak berani mempertanyakan Al-Qur’an secara terbuka, namun selalu mencari alasan mengapa Al-Qur’an itu sendiri tidak dapat diikuti.

Mungkin, inilah saatnya bagi orang-orang tersebut untuk menyadari betapa berbahayanya sikap penyangkalan mereka tersebut:

“Itulah ayat-ayat Allah yang Kami lantunkan kepadamu dengan sebenarnya. Maka, dengan perkataan (hadits) manakah, setelah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya, mereka akan beriman? Kesusahan akan menimpa orang-orang yang berdosa. Ia telah mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya, namun ia tetap bersikap sombong, seakan-akan ia tidak pernah mendengarnya. Maka sampaikanlah berita kepadanya tentang azab yang pedih. Dan apabila ia mendengar sedikit tentang ayatayat Kami, ia memperolok-oloknya. Merekalah yang akan menerima azab yang menghinakan. Mereka akan dihadapkan pada Neraka Jahanam. Dan apa yang mereka peroleh tidak akan mendatangkan manfaat bagi mereka, begitupula dengan apa yang mereka sembah selain Allah, dan mereka akan mendapatkan azab yang sangat pedih. Ini adalah petunjuk. Dan bagi mereka yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhannya, maka akan mendapat siksaan yang sangat pedih.” (Qur’an  45:6-11)

<Silahkan cek Surat 45:6 untuk melihat bahwa Allah menulis kata HADITS disitu.>

Allah sendiri menanyakan, pada hadits mana lagi SETELAH Kalimat2 Allah mereka akan beriman? Seakan – akan Kaum Muslim menjawabnya dengan :

“Kami beriman pada Hadits Bukhari, Tarmidzi, Muslim, Abu Daud, dll”

Ini bukan soal Al-Qur’an no.1 lalu Hadits no.2 (walau pada kenyataannya mayoritas hukum2 “Syariah” diambil dari hadits dan sangat sedikit yang diambil dari Qur’an, belum lagi mayoritas hukum2 “Syariah” tersebut banyak yang bertentangan dengan Qur’an), tapi ini soal tantangan langsung terhadap kesempurnaan Kalimat2 Allah.

Pada Bab selanjutnya kita akan lihat beberapa argument lain yang dikeluarkan oleh pemegang Hadits.

Sebelumnya (Prakata)

Home

Selanjutnya (Bab 02. “Suri Tauladan” Terbaik, dalam diri Rasul)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.