Mengabaikan Kitab Suci

6 Juli 2009 at 10:02 am (Artikel Inti)

Mengabaikan Kitab Suci

Hal tersebut terjadi bukan lantaran kurangnya kita berdoa, atau panjangnya jenggot, atau tata cara berbusana wanita yang menyebabkan Tuhan mengabaikan umat Muslim. Hal itu terjadi karena kita telah mengabaikan sabda Tuhan dan mengambil jalur lain serta menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah tanpa kita menyadarinya.

Allah berkata bahwa kita seharusnya berpedoman kepada pertimbangan-pertimbangan yang tertera dalam KitabNya, namun kita melihat umat Muslim berkali-kali mengacu kepada Imam mereka, atau para intelektual, pemimpin, atau bangsa Arab, atau Persatuan Bangsa-Bangsa, atau lembaga lain kecuali satu yang diperintahkan kepada mereka untuk mematuhinya:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menggantikannya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating kepadamu. Kami berikan aturan dan jalan; dan bila Allah menghendaki, niscaya kamu akan dijadikanNya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu dengan pemberianNya; maka berusahalah untuk berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, dan Dia memberitahu kepadamu apa yang menjadi perselisihan itu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka agar mereka tidak memalingkan kamu terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu. Jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan menimpakan musibah kepada mereka lantaran dosa-dosa mereka; dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orangorang yang korup. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Qur’an 5:48-50)

Bahkan pada saat pengungkapan ayat-ayat kitab suci, orang-orang yang tidak beriman mengetahui bahwa Kitab Suci begitu terperinci dan teliti dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan mereka sehingga mereka memohon kepada Nabi, “Gantilah kitab suci itu!”

“Dan ketika ayat-ayat Kami yang nyata dibacakan kepada mereka, mereka yang enggan bertemu dengan Kami berkata: ‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini, gantilah!’. Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku untuk menggantinya, aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari besar (kiamat)”. Katakanlah: ‘Jikalau Tuhan menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya untukmu dan memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya; tidakkah kamu memahaminya?’ Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mencari-cari kebohongan tentang Allah atau menyangkal ayat-ayatNya? Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kejahatan tidak akan pernah beruntung. Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak mendatangkan kebaikan atau manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya di langit atau di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.” (Qur’an 10:15-18)

Beginilah cara Kitab Suci diabaikan kendati telah dilantunkan siang dan malam. Kitab Suci telah diabaikan dalam hukum dan yurisdiksinya dan diacuhkan dalam banyak bidang kehidupan. Umat Muslim tidak mematuhi sabda Allah dimulai dari pimpinan pemerintahan hingga keluarganya, dalam cara mereka memperlakukan wanita, bagaimana mengasuh anak-anak, berhubungan dengan tetangga, berdagang, memperlakukan lingkungan, menghadapi agama-agama lain, dan sebagainya.

Kita tidak merasa terkejut ketika kita tahu bahwa kaum Ibrani membuat seluruh volume buku ciptaan manusia seperti Talmud dan menganggapnya sebagai kalimat-kalimat Tuhan dan RasulNya (Musa). Begitupula kita tidak merasa terkejut bahwa umat Kristen menganggap seorang anak laki-laki sebagai Tuhannya! Namun, bila ada orang yang berani menyatakan bahwa umat Muslim juga telah terseret keluar dari jalur yang benar, maka pesan itu akan menciptakan gelombang penolakan dan keterkejutan, karena umat Muslim percaya bahwa hal yang tidak mungkin Allah akan membiarkan agama mereka dirubah.

Tidakkah Tuhan berkata bahwa Dia akan membiarkan orang-orang yang merasa ragu dalam hatinya untuk terseret ke luar dari jalur yang benar?

“Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan jin, untuk membisikkan satu sama lain kalimat-kalimat indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Maka tinggalkan mereka dan kebohongan mereka. Dan orang-orang yang tidak percaya pada kehidupan akhirat akan mendengarkannya, dan mereka akan menerimanya, mereka akan mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (Qur’an  6:112-113)

Itulah sebabnya mengapa kekaisaran telah berakhir dan mengapa kita terus dikalahkan dan dipermalukan di seluruh dunia. Kita telah mengacuhkan Allah, sehingga Allah mengabaikan dan meninggalkan kita dalam kondisi kebodohan dan kehilangan arah.

Sebelumnya (Mengapa Umat Muslim mengalami Kekalahan)

Home

Selanjutnya (Bencana dan Kewajiban)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.