Musuh dalam Selimut
Musuh dalam selimut
Ketika Kitab Suci Al-Qur’an dibacakan, banyak orang pada saat itu yang bingung dengan katakatanya, mereka bahkan memohon kepada Nabi untuk mengubahnya, namun jawaban beliau sangatlah jelas:
“Dan ketika ayat-ayat suci Kami yang nyata dilantunkan kepada mereka, mereka yang enggan bertemu dengan Kami berkata: ‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini, atau gantilah!’ Katakanlah: “Tidakkah pantas bagiku untuk menggantinya. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut bila mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari kiamat!” (Qur’an 10:15).
Namun demikian ada “jalan belakang” yang kemudian ditemukan oleh orang-orang yang sama ini, yaitu cinta tanpa syarat kepada Nabi. Mereka tahu bahwa orang-orang selalu ingin mendengar tentang kehidupan Nabi dan apa yang dikatakan atau apa yang biasa dilakukannya. Bahkan, obsesi seperti itu masih terlihat hingga hari ini dimana banyak umat Muslim bisa berbicara selama berjam-jam tentang Nabi dan kehidupannya, sementara hanya sedikit membahas tentang Allah. Sehingga pintu Hadits (ucapan-ucapan) dibuka yang di dalamnya berisi segala ucapan dan tindakan Nabi dan serta merta diterima sebagai suatu kebenaran. Hal yang lebih mengherankan adalah ketika seseorang mempertanyakan tentang materi atau keabsahan perkataan ini, maka reaksi dari sekumpulan orang adalah seolah Nabi sedang dihina atau kebenaran Nabi diragukan. Karenanya, narator Hadits secara ajaib disetarakan dengan Nabi, dan meragukan dirinya sama dengan meragukan atau merendahkan Nabi!
Riwayat Hadits
Kata “Hadits” tidak terpisahkan dengan Islam pada saat ini dan paling tepat diterjemahkan sebagai perkataan/ucapan dari Nabi dan sahabat-sahabatnya.
Hadits dikenal sebagai sumber Islam yang kedua (Al-Qur’an adalah yang pertama) dan telah dimasukkan dalam keseluruhan ilmu pengetahuan dimana orang menghabiskan seumur hidupnya mempelajari Hadits dan kumpulan-kumpulannya.
Umat Muslim diajarkan bahwa Nabi membawa Al-Qur’an bersamanya begitu pula dengan perkataan, Hadits, dan tindakan-tindakannya, yaitu Sunnah. Umat Muslim percaya bahwa pilar-pilar ini tidak terpisahkan dan bahwa Islam tidak akan mampu bertahan bila salah satu dari pilar-pilar ini dihilangkan.
Banyak umat Muslim yang tidak mengetahui bahwa sesuai dengan teks yang ada, Hadits tidak dicatat hingga 60 tahun setelah wafatnya Nabi selama masa pemerintahan Omar Bin Abdulaziz. Keterangan yang disampaikan oleh intelektual masa kini tentang larangan selama 60 tahun ini adalah Nabi khawatir bila Hadits dan Al-Qur’an akan bercampur dalam satu kitab dan karenanya larangan ini hanyalah sebagai tindakan berjaga-jaga.
Bahkan, ironisnya kakek dari Omar Bin Abdulazis (Omar Bin Al-Khatab) sendiri menentang keras setiap penulisan ayat-ayat keagamaan kecuali Al-Qur’an:
“Omar Bin Al-Khatab berkata: “Saya ingin menulis tradisi-tradisi (Sun’an), dan saya mengingat orang-orang sebelum kamu, mereka menulis buku-buku lain untuk diikuti dan mengesampingkan kitab Allah. Dan saya berjanji, tidak akan pernah menggantikan kitab Allah dengan kitab apapun.”
Setelah larangan itu berakhir, narator mulai mencatat dan mengumpulkan perkataanperkataan dan kompilasi yang berkaitan dengan Nabi dan para teman-temannya. Ada kisahkisah yang tak terhitung banyaknya tentang bagaimana masa lalu yang baru ini menjadi obsesi bagi beberapa narator dimana mereka rela menempuh perjalanan yang jauhnya ratusan mil demi mencari satu Hadits. Periode pengumpulan dan penulisan Hadits dilanjutkan kirakira 150 tahun setelah pencabutan larangan dengan koleksi Hadits yang paling terkenal saat ini sebagai berikut: Bukhari 870 A.D., Muslim 875 A.D., Abu Daud 888 A.D., Tirmidhi 883 A.D., Ibnu Maja 886 A.D., dan Al-Nisa’I 915 A.D.
Dalam pernyataan pembukanya, Bukhari (dianggap sebagai sumber Hadits otentik yang pertama) menyatakan, dari sekitar 600,000 Hadits yang diketahuinya pada saat itu, hanya 7,397 yang bisa dicatatnya sebagai hadits Nabi yang otentik. Pengakuan dari para kolektor Hadits bahwa setidaknya 98.76 % dari hal-hal yang sering dibicarakan orang tentang Nabi adalah meragukan dan penuh kepalsuan! Inipun memberi kita fakta bahwa orang2 zaman dulu ternyata tidak mempunyai masalah sama sekali saat mengarang2 cerita tentang Allah dan RasulNya.
Masalah Hadits
Bukhari dan mereka yang muncul setelah dirinya membutuhkan waktu selama bertahuntahun untuk meneliti dan memilih Hadits hingga hadits tersebut menjadi pengetahuan itu sendiri.
Bukhari bersandar pada seni “Penyampaian” yang ditemukan sendiri, dimana ia menyatakan bahwa suatu Hadits bisa diterima sebagai suatu yang otentik atau ditolak berdasarkan dari mana Hadits itu berasal.
Bukhari melakukan penelitian tentang sahabat-sahabat Nabi dan menetapkan bahwa kebanyakan dari mereka bisa dipercaya. Selanjutnya ia bertanya kepada orang-orang yang muncul setelah mereka, dan bila umpan balik yang diberikan adalah positif dan bisa dipercaya, maka Bukhari tidak menemui kesulitan menerima suatu Hadits yang diterima dari sumber itu.
Untuk menghilangkan kendala obyektifitas dan fakta bahwa Hadits utamanya berasal dari rumor atau kabar angin, Bukhori menemukan suatu Hadits yang sangat bermanfaat (yang masih dikutip oleh para intelektual Islam) yang membekali kemampuan amat hebat bagi para sahabat Nabi dan semua narator Hadits, sehingga memudahkan mereka untuk mengingat kata demi kata dalam ucapan Nabi tanpa mengalami kebingungan atau penyimpangan.
Kendati penjelasan di atas tidak bersifat ilmiah atau bahkan obyektif bagi banyak orang, namun hal itu adalah metode faktual yang digunakan untuk menemukan sumber kedua hukum Islam.
Kendati sangat sedikit orang luar yang mempertanyakan keabsahan Kitab Suci Al-Qur’an, namun Hadits tidak seberuntung itu!
Banyak kelompok yang menentang dan agama-agama lain membuat malu umat Muslim dengan mengutip Hadits yang menuai kontroversi – seperti ayat yang membandingkan wanita dengan keledai (Hadits tentang apa yang membatalkan sholat) atau seseorang menyatakan bahwa mayoritas wanita akan masuk Neraka! (contoh ini tertera dalam Hadits tentang Isra dan Mi’raj).
Umumnya reaksi umat Muslim terhadap tuduhan-tuduhan di atas adalah amarah dan menghindar, mengatakan bahwa orang-orang itu hanya ingin memfitnah Nabi. Yang juga tidak diketahui oleh umat Muslim adalah bahwa bukanlah orang yang bertanya yang meremehkan karya dari Nabi, yang sesungguhnya mampu menanggapi sejumlah pertanyaan dan pemeriksaan silang; namun orang yang berusaha untuk mengesampingkan pesanpesannya, yaitu Al-Qur’an, dan menyetujui pendapat dari narator serta penulis Hadits lah yang memfitnah Nabi dan menyangkal bahwa ia hidup dan mati.
Berikut ini adalah “contoh” sederhana dari Hadits yang dianggap oleh umat Muslim sebagai sumber bagi inspirasi suci bersama dengan Al-Qur’an
(Bukhari Volume 1, Buku 9, Nomor 490: Narasi oleh Aisha)
Hal-hal yang membatalkan shalat telah disebutkan di hadapan saya. Mereka berkata, “Hal-hal yang membatalkan shalat adalah anjing, keledai dan seorang wanita (bila mereka melintas di hadapan orang-orang yang sedang shalat).” Saya berkata, “Kamu menganggap kami (wanita) sebagai anjing. Saya melihat Nabi shalat ketika saya sedang terbaring di tempat tidur diantaranya dan Kiblat. Kapanpun saya membutuhkan sesuatu, saya akan menjauh. Karena saya tidak mau berada dihadapannya.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 464: Narasi oleh ‘Imran bin Husain)
Nabi berkata, “Saya melihat Surga dan tampak orang-orang miskin yang menjadi sebagian besar penghuninya; dan saya melihat Neraka dan terlihat mayoritas penghuninya adalah wanita.”
(Bukhari, Volume 3, Buku 48, Nomor 826: Narasi oleh Abu Said Al-Khudori)
Nabi berkata, “Tidakkah terlihat bahwa seorang wanita sama dengan setengah dari pria?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Itu karena wanita lemah dalam berpikir.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomor 829: Narasi oleh Abdullah bin Umar).
Kaum Yahudi mendatangi Rasul Allah dan berkata kepadanya bahwa di antara pria dan wanita telah terjadi hubungan seksual yang tidak sah. Rasul Allah berkata padanya, “Apa yang kamu baca dalam Taurat (Kitab Perjanjian Lama) tentang hukuman legal berupa Rajam (dilembar batu)?” Mereka menjawab, (Tetapi) kami mengumumkan kejahatan mereka dan mencambuk mereka.” Abdullah bin Salam berkata, “Kamu berbohong; Taurat berisi perintah rajam.” Mereka membawa dan membuka Taurat dan salah satu dari mereka menutup Ayat tentang Rajam dan membaca ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat tersebut. Abdullah bin Salam berkata padanya, “Angkat tanganmu.” Saat ia mengangkat tangannya, Ayat tentang Rajam tertera di sana. Mereka berkata, “Muhammad telah berkata benar; Taurat memiliki Ayat tentang Rajam. Nabi selanjutnya memerintahkan agar mereka dilempar batu hingga mati. (Abdullah bin Umar berkata, “Saya melihat pria bersandar pada tubuh wanita untuk melindunginya dari hantaman batu.”
(Bukhari, Volume 1, Buku 8, Nomor 387: Narasi oleh Anas bin Malik)
Rasul Allah berkata: “Saya telah diperintahkan untuk bertarung dengan orang hingga mereka berkata: “Tak satupun yang berhak untuk disembah selain Allah.’ Dan bila mereka berkata demikian, berdoa seperti kami, menghadap ke Kiblat dan menyembelih seperti cara kita menyembelih, dan selanjutnya darah dan harta mereka akan suci bagi kami dan kami tidak akan mencampuri urusan mereka kecuali secara legal dan memperhitungkannya dengan Allah.” Dinarasikan oleh Maimun Ibnu Syiah bahwa ia bertanya kepada Anas bin Malik, “O Abu Hamza! Apa yang menyucikan hidup dan harta seseorang?” Ia menjawab, “Siapapun yang berkata, ‘Tak satupun memiliki hak untuk disembah selain Allah’, menghadap ke arah Kiblat kami ketika sholat, berdoa seperti kami dan menyantap binatang yang kami sembelih, maka ia adalah seorang Muslim, dan memiliki hak serta kewajiban yang sama dengan umat Muslim lainnya.”
(Bukhari, Volume 5, Buku 58, Nomor 227: Narasi oleh Abbas bin Malik)
…Jibril berkata, “Agama Islamlah yang kamu dan pengikutmu anut.’ Kemudian saya diperintahkan untuk sholat: Ada lima puluh kali sholat dalam sehari. Saat kembali, saya bertemu Musa, ia bertanya kepada saya, ‘Apa yang telah diperintahkan untuk engkau kerjakan?’ Saya menjawab, ‘Saya telah diperintahkan untuk mengerjakan lima puluh kali shalat sehari.’ Musa berkata, ‘Para pengikutmu tidak akan tahan melakukan sholat limapuluh kali sehari, dan demi Allah, saya telah menguji orang-orang sebelum dirimu, dan saya telah menguji kemampuan terbaik saya dengan Bani Israel (sia-sia). Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk mengurangi ‘beban’ para pengikutmu. Maka saya kembali, dan Allah mengurangi sepuluh sholat untuk saya. Selanjutnya saya kembali pada Musa, namun ia mengulang perkataan yang diucapkan sebelumnya. Selanjutnya saya kembali pada Allah dan Dia mengurangi sepuluh sholat lagi. Saat saya kembali pada Musa ia berkata sama, saya kembali pada Allah dan Dia memerintahkan kepada saya untuk mematuhiNya dengan melakukan sepuluh kali sholat sehari. Saat saya kembali bertemu Musa, ia mengulang saran yang sama, jadi saya kembali pada Allah dan memenuhi kewajiban melakukan ibadah sholat sebanyak lima kali sehari.
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 460: Narasi oleh Abu Huraira)
Rasul Allah berkata: “Bila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya (untuk melakukan hubungan seksual) dan sang istri menolak dan membuat suaminya tidur dengan perasaan marah, maka para malaikat akan mengutuknya hingga pagi.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 540: Narasi oleh Abdullah bin Umar)
Rasul Allah memerintahkan bahwa anjing harus dibunuh.
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 539: Narasi oleh Abu Talha)
Nabi berkata, “Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang memiliki seekor anjing atau memajang foto anjing.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 509: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata: “Menguap adalah dari Setan dan bila ada diantara kamu yang menguap, ia harus sebanyak mungkin menjaga tindakannya itu, karena bila salah satu dari kalian (selama menguap) berkata: ‘Ha’, setan akan menertawakannya.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 513: Narasi oleh Abu Qatada)
Nabi berkata, “Mimpi indah diberikan oleh Allah, dan mimpi buruk adalah dari Setan; jadi bila salah satu dari kalian bermimpi buruk yang ia takuti, maka ia harus meludah ke sisi kiri dan mencari Perlindungan Allah dari segala godaan setan, maka setan tidak akan membahayakan dirinya.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 516: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata, “Jika diantara kamu bangun dari tidur dan mandi junub, ia harus mencuci hidungnya dengan memasukan air dan menyemburkannya dua kali, karena setan ada di bagian atas hidungnya sepanjang malam.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 518: Narasi oleh Ibnu Umar)
Ia mendengar Nabi memberikan khotbah di atas mimbar, “Bunuhlah ular dan bunuh Dhu-at-Tufyatain (yaitu ular yang memiliki dua garis putih di punggungnya) dan albatross (ular yang memiliki ekor pendek atau terpotong) karena mereka merusak mata orang dan menyebabkan aborsi.” (Abdullah bin Umar selanjutnya menambahkan): Suatu saat ketika saya sedang mengincar seekor ular guna memenuhi perintah untuk membunuhnya, Abu Lubaba memanggil saya dan berkata: “Jangan bunuh ular itu,” Saya berkata, “Rasul Allah memerintahkan kita untuk membunuh ular.” Dia berkata, “Namun kemudian beliau melarang untuk membunuh ular yang hidup dalam rumah.” (Az-Zubri berkata, “Ular semacam itu disebut Al-Awamir.”).
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 522: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata, “Bila kamu mendengar ayam jantan berkokok, ucapkanlah pujian kepada Allah karena (suara ayam jantan tersebut menunjukkan bahwa) mereka melihat malaikat. Dan bila kamu mendengar ringkikan keledai, mintalah Perlindungan kepada Allah dari segala godaan Setan karena (ringkikan keledai menunjukkan) bahwa mereka melihat Setan.”
(Bukhari, Volume 4, Buku 56, Nomor 841: Narasi oleh Abu Huraira)
Saya berkata: “Oh Rasul Allah’ Saya mendengar banyak kisah tentangmu namun saya melupakannya.” Ia berkata: “Bentangkan kainmu.” Saya membentangkan kain dan ia menggerakkan kedua tangannya seolah sedang meraup sesuatu dan menuangkannya pada kain kemudian ia berkata, “Lipatlah.” Saya melilitkannya di sekeliling tubuh saya, dan sejak saat itu saya tidak pernah melupakan satupun Hadits.
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 524: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata, “Sekelompok orang Israel telah tersesat. Tak ada yang tahu apa yang telah mereka lakukan. Namun saya tidak melihat mereka kecuali bahwa mereka telah dikutuk dan berubah menjadi tikus, karena bila kamu menaruh susu unta di depannya ia tidak akan meminumnya tetapi jika susu domba yang ditaruh didepannya ia akan meminumnya.” Saya mengatakan hal ini kepada Ka’b yang bertanya pada saya, “Apakah kamu mendengarnya dari Nabi?” Saya berkata, “Ya” Ka’b bertanya hal yang sama beberapa kali; Saya berkata kepada Ka’b. “Apakah saya membaca Taurat? (yaitu saya mengatakan hal ini dari Nabi.)”
(Bukhari, Volume 4, Buku 54, Nomor 525: Narasi oleh Aisha)
Nabi memanggil Salamander, pelaku kejahatan. Saya tidak mendengar perintahnya untuk membunuhnya. Sad bin Waqqas menyatakan bahwa Nabi memerintahkan bahwa ia harus dibunuh.
(Muslim, Buku 008, Nomor 3371)
Abu Sirma berkata kepada Abu Sa’id al Khadri (SWT): O Abu Sa’id apakah engkau mendengar Rasul Allah (SAW) menyebutkan al-azl? Ia berkata: Ya dan menambahkan: Kami pergi bersama Rasul Allah (SAW) dalam suatu ekspedisi ke Bi’l-Mustaliq dan melihat beberapa wanita Arab yang hebat; dan kami menginginkan mereka, karena istri-istri kami tidak bersama kami, (namun pada saat yang sama) kami juga ingin menebus mereka. Maka kami memutuskan untuk berhubungan seks dengan mereka namun dengan mematuhi ‘azl (mengeluarkan organ seksual pria sebelum air mani keluar untuk menghindari terjadinya pembuahan). Namun kami berkata: Kami melakukan tindakan sementara Rasul Allah ada di antara kita; mengapa kita tidak bertanya kepadanya? Maka kami bertanya kepada Rasul Allah (SAW), dan ia berkata: Tidak penting bila kamu tidak melakukannya, karena setiap jiwa yang akan dilahirkan hingga pada Hari Kebangkitan akan dilahirkan.
(Muslim, Buku 030, Nomor 5839)
Abu Huraira menyebutkan perkataan Rasul Allah (SAW): Tangisan bayi (akan muncul) bila setan mulai melukainya.
(Bukhari, Volume 2, Buku 23, Nomor 423: Narasi oleh Abu Huraira)
Malaikat kematian dikirimkan kepada Musa dan saat ia mendatanginya, Musa menamparnya dengan keras, melukai salah satu matanya. Malaikat tersebut kembali pada Tuhannya dan berkata, “Engkau mengirimku kepada budak yang tidak ingin mati.” Allah menyembuhkan matanya dan berkata, “Kembalilah dan katakan padanya (Musa) untuk menaruh tangannya di atas punggung seekor sapi jantan, karena ia akan diizinkan untuk hidup selama beberapa tahun sama dengan jumlah rambut yang ada di bawah tangannya.” (Maka malaikatpun datang padanya dan mengatakan hal yang sama). Selanjutnya Musa bertanya, “Ya Tuhanku! Apa yang selanjutnya akan terjadi?” Dia berkata, “Yang akan terjadi berikutnya adalah kematian.” Dia berkata, “(Biarkan itu terjadi) sekarang.” Ia memohon kepada Allah agar membawanya mendekati Tanah Suci yang berjarak selemparan batu. Rasul Allah (SAW) berkata, “Bila saya pergi ke sana akan saya tunjukkan makam Musa yang letaknya dekat dengan bukit pasir merah.”
(Bukhari Volume 5, Buku 57, Nomor 15: Narasi oleh Abu Huraira)
Saya mendengar Rasul Allah berkata, “Saat seorang penggembala mengawasi dombadombanya, seekor serigala menyerang domba-domba tersebut dan mengambil satu
diantaranya. Saat penggembala itu mengejar serigala, serigala tersebut berbalik ke arahnya dan berkata, ‘Siapa yang menjaga domba ini jika binatang buas muncul dan tak ada yang menjaganya kecuali saya yang akan menjadi penggembalaannya. Dan saat seorang pria menarik sapi dengan muatan di atas tubuhnya, sapi itu akan berbalik padanya dan berbicara padanya, ‘Saya tidak diciptakan untuk tujuan ini, namun untuk menggarap sawah.” Orang tersebut berkata, “Allah Maha Mulia.” Nabi berkata, “Namun saya percaya dengan hal itu dan begitupula dengan Abu Bakar dan Umar.”
(Bukhari Volume 5, Buku 58, Nomor 188: Narasi oleh ‘Amr bin Maimun)
Selama periode kebodohan pra Islam saya melihat seekor kera betina dikelilingi oleh sejumlah kera. Mereka semua melemparinya dengan batu, karena telah melakukan hubungan seks yang tidak sah. Saya juga melemparinya bersama yang lainnya.
(Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 528: Narasi oleh Aisha)
Nabi memerintahkan untuk membunuh ular berekor pendek atau dengan ekor terpotong (yaitu Abtar), karena membuat buta orang yang melihatnya dan menyebabkan aborsi.”
(Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 429: Narasi oleh Abdullah)
Telah disebutkan di hadapan Nabi bahwa ada seorang pria yang tidur dari malam hingga pagi (setelah matahari terbit). Nabi berkata, “Ia adalah manusia yang telinganya (atau satu telinganya) dikencingi oleh Setan.”
(Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 505: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata, “Bila telah tiba panggilan untuk menunaikan ibadah sholat, Setan melarikan diri, berlalu dengan menimbulkan suara, bila panggilan untuk sholat telah selesai, ia kembali. Dan bila Qamat dilantunkan, ia kembali melarikan diri, dan setelah Qamat selesai, ia kembali lagi untuk mengganggu orang yang sedang sholat dan hatinya, berkata padanya, “Ingat hal ini atau itu, hingga orang yang sedang sholat lupa apakah ia telah melakukan tiga atau empat rakaat: bila orang lupa apakah ia sholat tiga atau empat rakaat, maka ia harus melakukan dua sujud Sahwi (untuk perasaan tidak yakin).”
(Muwatta dari Malik Buku 49, Nomor 49.4.6)
Yahya berkaitan dengan saya dari Malik dari Ibnu Shihab dari Abu Bakar bin Ubaydullah bin Abdullah bin Umar dari Abdullah bin Umar bahwa Rasul Allah, SAW, berkata, “Bila kamu makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan. Setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.”
(Bukhari Volume 1, Buku 6, Nomor 299: Narasi oleh Abdur-Rahman bin Al Aswad)
(atas otoritas dari ayahnya) Aisha berkata: “Kapanpun Rasul Allah ingin menyentuh salah satu dari kita selama masa menstruasi, beliau biasanya memerintahkannya untuk meletakkan Izar dan mulai menyentuhnya.” Aisha menambahkan, “Tak satupun dari kamu yang bisa mengendalikan hasrat seksualnya kecuali Nabi sendiri.”
(Bukhari, Volume 1, Buku 11, Nomor 626: Narasi oleh Abu Huraira)
Nabi berkata: “Tak ada waktu sholat yang lebih berat bagi orang-orang yang munafik dari waktu Subuh dan Isya dan bila mereka tahu pahala untuk sholat ini sesuai dengan masing-masing waktunya, mereka pasti akan hadir (di masjid) meski mereka harus merangkak.” Nabi berkata lagi, “Tentu saya akan memerintahkan Muadh-dhin (penyuara azan) untuk melantunkan Qamat dan memerintahkan seorang pria untuk memimpin sholat dan kemudian menyalakan api guna membakar semua orang yang belum meninggalkan rumah untuk sholat bersama rumah mereka.”
(Bukhari, Volume 1, Buku 4, Nomor 215: Narasi oleh Ibnu Abbas)
Saat Nabi melintas di salah satu makam di Medinah atau Mekkah, beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi berkata, “Dua orang itu disiksa dalam kuburnya bukan karena suatu dosa besar (untuk menghindar).” Nabi kemudian menambahkan, “Ya! (mereka disiksa karena suatu dosa besar). Memang, salah satu dari mereka tidak pernah menolong dirinya sendiri yang membasahi dirinya dengan urinnya sementara yang lainnya suka memfitnah (senang bermusuhan dengan teman-temannya). Nabi kemudian meminta sehelai daun dari pohon kurma, merobeknya menjadi dua dan meletakkannya masing-masing pada makam itu. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, beliau menjawab, “Saya berharap semoga hukuman mereka dikurangi, hingga daun ini mengering.”
Masalah Lain dari Hadits
Bila Hadits hanya menimbulkan rasa malu, kita tidak akan mempersoalkannya. Dampak dari rumor atau kabar angin yang subyektif ini jauh lebih besar.
Umat manusia dilahirkan dengan sifat ingin tahu. Siapapun yang memiliki anak akan mengerti bahwa meskipun telah berulangkali Anda melarang mereka, namun mereka selalu ingin mencoba menyentuh panci panas atau benda-benda kotor hanya sekadar ingin tahu mengapa mereka dilarang melakukannya. Ini adalah mekanisme pemberian Tuhan yang dianugerahkan kepada umat manusia agar kita bisa memperluas wawasan dan hanya menerima apa yang kita pahami dan ketahui.
Kehidupan umat Muslim diatur sesuai dengan apa yang tertera dalam Al-Qur’an, dan tak ada masalah dengan sifat rasa ingin tahu tersebut karena Al-Qur’an memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan…. Muslim, pada saat itu, menyaksikan perkembangan intelektual yang tak tertandingi dalam sejarah Arab bahkan dunia.
Kecenderungan untuk mempertanyakan dan menyelidiki telah membimbing anak-anak Muslim menjadi matang dalam atmosfer dimana tidak ada pengetahuan yang dilarang dan tak ada hal yang dianggap tabu. Rasa ingin tahu mereka berkembang menjadi rasa haus tak terbatas terhadap informasi, yang hanya terpuaskan dengan penemuan dan kemajuan dalam setiap bidang.
Kemudian, beberapa tahun setelah Kitab Suci Al-Qur’an telah mengisi revolusi intelektual dalam pikiran umat Muslim, sesuatu mulai berubah.
Pengenalan Hadits yang luas dan popularitasnya yang berkembang di masyarakat secara perlahan mulai menimbulkan masalah dengan pendidikan Muslim. Hadits bahkan tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan Al-Qur’an karena bahasanya yang berkualitas rendah dan berlandaskan pada rumor atau kabar angin dan dugaan.
Siswa-siswa Muslim berhati tulus yang menginginkan penjelasan atas berbagai kontradiksi dan isi yang tidak logis akan terjebak oleh penyebar Hadits. Kita hanya bisa menduga bahwa penyusunan Hadits, sebagai sumber hukum Islam, hanya dicapai hanya beberapa abad setelah pengumpulan awalnya dengan memaksakan kepada umat Muslim tanpa toleransi untuk menyelidiki atau menelitinya.
Anak-anak sekolah Muslim pada saat ini telah diajarkan sejak dini untuk tidak bertanya atau menganalisa secara mendalam sumber-sumber agama mereka, karena bisa membangkitkan amarah Tuhan dan masuk neraka.
Pertanyaan-pertanyaan para siswa umumnya dijawab dengan pernyataan seperti: “Apakah kamu merasa lebih baik ketimbang teman-teman Nabi atau generasi-generasi sebelumnya?” Atau, “Apakah kamu membenci Nabi sehingga kamu meragukan ucapan-ucapannya (sunnah)?”
Dengan diserang tuduhan-tuduhan semacam itu, para siswa Muslim sejak dini belajar untuk menerima apa yang telah diberikan tanpa pernah berpikir atau bertanya. Dan, saat mereka tumbuh dewasa, mereka hanya memberikan pengulangan-pengulangan kepada generasi muda hal-hal yang pernah diajarkan kepada mereka yaitu tentang masuk neraka dan sikap yang tidak menghormati Nabi. Siklus itupun berputar kembali!
Namun demikian, kebenaran tetaplah muncul saat orang-orang yang sama yang merasa tidak puas dengan pengungkapan Al-Qur’an pada akhirnya berhasil menemukan jalan dan mengubah Islam menjadi strukturnya itu sendiri dengan memberlakukan hukum dan aturan yang dirancang untuk memperlemah sistem yang ada dalam Al-Qur’an, dan menindas pertumbuhan dan perkembangan intelektual yang hampir selalu menjadi musuh bagi korupsi, ketamakan, dan pengesampingan keadilan dan kesetaraan.
Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?
Kendati umat Muslim tidak berkeberatan untuk menerima bahwa Yahudi dan Nasrani dan orang lain mungkin telah menyimpang dari pesan murni Hanya Allah yang Harus Disembah, namun mereka enggan untuk mengakui bahwa penyimpangan yang sama telah terjadi pada diri mereka. Umat Muslim selalu berkata hal-hal seperti “Allah Melindungi Islam,” dan “Merupakan agama yang sama selama berabad-abad.” Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah argumen yang sama yang diutarakan oleh Yahudi atau Nasrani saat keyakinan mereka dipertanyakan!
Kenyataan yang menyedihkan adalah umat Muslim hanyalah manusia biasa dan sama rapuhnya seperti orang lain. Kita tidak memiliki jimat ajaib atau kekuatan super yang mampu melindungi kita lagi ketimbang orang-orang pada umumnya. Kita adalah makhluk yang lemah dan mudah terpengaruh sama seperti yang lainnya.
Bahkan, setelah lebih mempercayai sabda Allah ketimbang pendapat para intelektual kita tahu bahwa adalah firman Tuhan bahwa mereka yang tidak patuh akan tersesat:
“Kami izinkan musuh setiap nabi, manusia dan jin, untuk saling membisiki satu sama lain dengan kata-kata yang indah dengan tujuan menipu. Bila Tuhanmu menghendaki, mereka tidak akan melakukannya. Kamu harus meninggalkannya dan hal yang dibuatbuat. Dan hati kecil orang-orang yang tidak beriman akan mendengarkannya, dan mereka akan menerimanya, serta akan mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (Qur’an 6:112-113)
Hal itu menguji keyakinan kita, apakah kita dengan tulus dan sepenuh hati percaya pada Allah dan menyerahkan hidup kita padaNya, atau, apakah kita menyimpan keraguan dalam hati sehingga bergantung pada ucapan dan pendapat manusia, yang kita tahu nyata dan berwujud.
Ini adalah tentang ujian… Hanya Allah yang kita Sembah, atau MenyekutukanNya? God Alone or God Plus?
Sebelumnya (Bencana dan Kewajiban)
Selanjutnya (Prakata)