Prakata
Prakata
Dalam tulisan ini. Saya akan menggarisbawahi alasan2, yang akhirnya menuju pada satu kesimpulan bahwa Sunnah (atau jalan) yang asli dari Rasul Islam adalah untuk mengikuti al-Qur’an (Bacaan/Proklamasi). Bagian dari tulisan ini disusun untuk merespon pada argumen-argumen inti yang dipegang oleh beberapa Muslim untuk mengikuti buku lain sebagai tambahan pada Qur’an yang dijadikan petunjuk keagamaan. Alasan utama mayoritas Muslim saat ini tetap bersikukuh untuk mengikuti buku lain adalah penyakit lama manusia untuk meninggalkan Kitab Allah “dibelakang punggung mereka”, dan secara buta mengikuti ajaran nenek moyangnya. Ketika seorang manusia telah meluangkan waktu cukup lama untuk mempelajari dan mengikuti suatu metodologi, dia akan merasakan kesulitan dan berlawanan dengan egonya untuk menerima bahwa apa yang orang tuanya ajarkan, dan apa yang dia percaya sebagai kebenaran mungkin saja salah. Ini bukan kasus khusus bagi Umat Muslim semata; setiap komunitas agama secara berkala selalu berhadapan dengan pertanyaan ini – “Mungkinkah nenekmoyang dan para pemuka agama kita salah?”. Ya, gejala semacam ini sudah diidentifikasi didalam Qur’an sebagai alasan utama bagi manusia untuk menolak Pesan Allah kapanpun Allah mengirimkan seorang Rasul pada suatu kaum.
Hari ini, Dunia Muslim berada dalam jurang kegelapan dan ketidakpedulian. Kaum yang seharusnya menjadi pembawa obor pembelajaran dan pengetahuan saat ini justru jauh dari cahaya obor tersebut. Mereka mengetahui hal ini, dan ini hanya meningkatkan perasaan inferioritas mereka. Untuk “menyembuhkan” inferioritas yang kompleks ini, para pemuka agama dan pemimpin menunjuk orang lain sebagai penyebab kemunduran mereka sendiri. Mereka menyalahkan dunia Barat dan para “Kafir” sebagai penyebab keadaan Muslim saat ini. Tapi ketika opresi dan kekurangan toleransi didunia Muslim ditunjukkan pada mereka, mereka langsung menunjuk pada masa lalu mereka yang gemerlap atau opresi yang dilakukan di dunia Barat, melupakan fakta bahwa dunia Barat bukanlah guru kita dan menunjuk kesalahan orang lain tidak bisa menjadi pembenaran terhadap kesalahan sendiri.
Pemuka Muslim secara khusus, dan kaum Muslim secara umum, sangatlah kesulitan untuk mereview dan merevisi pemahaman mereka terhadap Pesan Islam. Langkah pertama dalam pengembangan intelektual dan spiritual suatu individu adalah untuk berkaca secara kritis dan siap untuk merubah “fakta yang telah diterima” didepan bukti-bukti yang disajikan didepannya. Keinginan untuk melakukan hal ini telah absen dari diri Muslim, karena itulah kebanyakan Umat Muslim menolak bahkan hanya untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin apa yang diajarkan nenekmoyang dan pemuka agama mereka mungkin tidak benar.
Diasumsikan bahwa orang – orang yang membaca tulisan ini percaya bahwa Qur’an adalah Firman dari Allah. Dan selanjutnya, saya akan mencoba menunjukkan bahwa Qur’an harus diterima sebagai otoritas pamungkas dalam setiap masalah keagamaan. Melalui Wahyu inilah Allah mengajarkan Nabi, yang kemudian membacakannya pada kaum. Maka untuk mengikuti “Sunnah” Rasul, seseorang harus bergantung pada Qur’an Semata.
Saya sepenuhnya percaya dan yakin akan datang suatu hari dimana Kaum Muslim menyadari bahwa Sunnah Rasul adalah mengikuti Qur’an dalam setiap masalah keagamaan; hari dimana Dunia Muslim memecahkan belenggu tradisi dan formula dan mulai melihat Kitab Allah sebagai Petunjuk-sumber cahaya untuk sepanjang masa, dihari itulah akan dimulai kebangkitan Islam. Hanya melalui Qur’anlah Kaum Muslim dapat keluar dari jurang tanpa dasar penuh kegelapan dan ketidakpedulian, dimana saat ini banyak dari mereka yang berdiam disana.
Sebelumnya (Musuh dalam Selimut)
Selanjutnya (Bab 01. Apakah Qur’an Komplit dan Mudah Dimengerti?)