“Suri Tauladan” Terbaik, dalam diri Rasul

9 Juli 2009 at 11:29 am (Artikel Inti)

Bab 02

“Suri Tauladan” Terbaik, dalam diri Rasul

Beberapa Muslim memakai ayat ini untuk mendukung argumennya terhadap hadits:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan  yang baik <uswatun husnatun> bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qur’an  33:21)

Mereka mengatakan bahwa kita harus mengikuti “suri tauladan” ini dengan membaca apa yang orang-orang laporkan tentang beliau di buku Hadits.

Sebelum kita mulai pembahasan ini, kita harus melihat beberapa ayat dulu karena tanpa mereka, pembahasan ini kurang lengkap :

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik <uswatun husnatun> bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” (Qur’an  60:4)

Sekarang, Allah mengatakan pada kita bahwa suri tauladan yang baik bagi kita adalah dengan mengikuti Nabi Ibrahim dan orang2 yang bersama beliau dan juga Nabi Muhammad. Bahkan faktanya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan juga kita lewat beliau, bahwa kita HARUS mengikuti Nabi Ibrahim :

“Katakanlah: “Benarlah Allah.” Maka ikutilah jalan Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qur’an  3:95)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan , (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah jalan Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an  16:120-123)

Maka sangat penting bagi kita untuk mengikuti Nabi Ibrahim. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengikuti beliau dan orang2 yang bersamanya (ingat mereka semua adalah “uswatun husna”, atau SURI TAULADAN YANG BAIK yang bisa diikuti). Qur’an tidak menunjuk kepada buku lain yang harus kita cari untuk menemukan suri tauladan dari Nabi Ibrahim. Apa ini berarti hari ini kita tidak bisa mengikuti suri tauladan terbaiknya?

Sebelum kita mengalamatkan pertanyaan tadi, penting bagi kita untuk menanyakan pertanyaan2 lain : Kita harus mengtahui aspek2 apa dari “suri tauladan” mereka yang harus kita ikuti. Apakah pakaian mereka? Kebiasaan makan mereka? Apakah mereka mencukur janggutnya atau tidak?, dll. Nabi Ibrahim mungkin mengenakan pakaian yang sama sesuai norma dan budaya dimasanya dan mungkin juga memelihara janggut, sama seperti ayahnya yang kafir. Mungkin juga, beliau duduk dilantai dan makan dengan tangannya, sama seperti ayahnya yang kafir. Inikah yang harus kita ikuti dari “suri tauladan”nya? Allah tidak meninggalkan kita untuk menebak-nebak – Dia memberitahu kita CONTOH perbuatan dari Nabi Ibrahim dalam Qur’an yang harus kita ikuti.

Perbuatan pertama, tentu saja ketundukan pada Allah semata :

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau..” (Qur’an  2:128)

Dan beliau menundukkan keinginnannya pada perintah2 Allah :

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.” (Qur’an  2:131)

Beliaupun tidak menyekutukan seorangpun dan apapun disisi Allah dengan cara APAPUN :

“…Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (Qur’an  2:135)

“Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (Qur’an  21:66-67)

Beliaupun seseorang yang tidak takut mengatakan kebenaran pada para tetua-tetua dan “ulama-ulama” di masanya :

“Dan di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”” (Qur’an  6:74)

“Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.”” (Qur’an  21:54)

Beliaupun seseorang yang tidak takut menggunakan Aqal dan menanyakan pertanyaan. Kenapa beliau melakukan itu? Karena beliau memiliki kepercayaan penuh terhadap Allah dan HANYA mencari petunjuk dari Allah. Beliau tidak mencari kitab-kitab lain dan juga manusia sebagai pembimbing – tapi HANYA Allah lah pembimbingnya.

“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang, dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada jalan yang lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an  6:76-79)

Beliaupun seseorang yang mendebat kaumnya dan memberitahu mereka bahwa bagaimana mereka TIDAK takut terhadap segala sesuatu yang mereka persekutukan di sisi Allah dimana Allah TIDAK memberi mereka kekuasaan untuk itu :

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan, sementara kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?” (Qur’an  6:81)

Beliau berhati lembut dan berdoa kepada Allah untuk ayahnya seperti yang telah beliau janjikan sebelumnya :

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qur’an  9:114)

Beliau tuan rumah yang baik :

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (Rasul <rusulunaa>) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat. (Salam) ” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” dan tidak lama kemudian (tanpa menunda) Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.” (Qur’an  11:69)

Tidak seperti beberapa kaum “religius” hari ini, beliau tidaklah haus darah. Insting pertamanya justru untuk memaafkan dan memberi kesempatan kedua untuk menebus kesalahan yang dilakukan. Bahkan pada kaum homosexualpun beliau mengasihani mereka. Ketika malaikat2 Allah memberi tahunya bahwa mereka datang dengan tujuan untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, beliaupun iba:

“Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bertanya jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah.” (Qur’an  11:74-75)

Maka, dengan membaca Qur’an, kita dapat melihat seseorang yang pintar, HANYA mengabdi pada Allah dan HANYA mencari petunjuk dari Allah. Beliau tidak takut untuk mengkritisi filosofi dan ide2 keagamaan yang dominan dimasanya, tapi disaat yang sama beliaupun berhati lembut dan pengampun, bahkan pada para pendosa. Inilah contoh, inilah SURI TAULADAN YANG BAIK yang harus kita ikuti dan bukan tentang apa yang beliau kenakan dan juga berapa panjang janggutnya, dll.

Seperti halnya Allah mendeskripsikan suri tauladan terbaik dari Nabi Ibrahim didalam Qur’an, Diapun mendeskripsikan suri tauladan terbaik dari Nabi Muhammad didalam Qur’an yang sama.

Seperti halnya Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad pun tumbuh didalam suatu budaya – beliau mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan masyarakat disekitarnya, beliau memiliki janggut yang memang suatu budaya dimasa itu sehingga Abu Jahalpun memiliki janggut, beliau makan sama seperti cara masyarakat di sekitarnya makan, mungkin dengan tangannya dan duduk di lantai.  Pertanyaannya adalah : apakah kita harus mengikuti contoh budaya ini, atau apakah Allah akan menunjukkan suri tauladan terbaik yang harus kita ikuti? Seperti yang sudah kita lihat di kasus Nabi Ibrahim, Allah mendefinisikan suri tauladan terbaik Nabi Muhammad didalam KitabNya yang harus kita ikuti sampai akhir jaman; Allah TIDAK meninggalkan tugas pendefinisian ini kesumber luar yang meragukan. Dengan logika yang sama, tidak mungkinlah Allah meninggalkan contoh suri tauladan terbaik Nabi Muhammad yang harus kita ikuti sampai akhir jaman di sumber luar yang meragukan. Kita akan lihat bahwa Allah telah mendefinisikan suri tauladan terbaik dari Nabi Muhammad dalam Qur’an yang sama.

Nabi Muhammadpun seseorang yang pengampun dan berhati lembut, dan HANYA berlindung pada Allah dan tidak mencari sumber dan orang lain sebagai pelindungnya.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (Qur’an  9:128-129)

Seperti Nabi Ibrahim, beliaupun TIDAK mengasosiasikan siapapun disisi Allah dan hanya meminta petunjuk dan bimbingan pada Allah :

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (Qur’an  72:20)

Beliau tidak mengikuti apapun atau kitab dan buku lain selain Kitab Allah :

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar.” (Qur’an  10:15)

Beliau melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang Allah perintahkan padanya. Tugasnya adalah untuk memperingatkan orang-orang, dan beliau memberi peringatan dengan menggunakan Kitab yang telah diberikan oleh Allah. Ini perintah Allah kepada Nabi Muhammad :

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab <auhaina_ ilaika qur a_nan arabiy yan>, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (Ibu kota) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.” (Qur’an  42:7)

Dan ini jawaban Rasul yang patuh :

“Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ini aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (Qur’an  6:19)

Beliau mengajarkan kaum dengan apa yang Allah wahyukan padanya. Orang-orang menghina dan menzaliminya, tetapi beliau tetap sungguh-sungguh pada Tuhan dan TIDAK membalas juga tidak memaksa seseorang untuk menjadi beriman – beliau mengajarkan dengan apa yang diwahyukan dari Allah yaitu Qur’an :

“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (Qur’an  50:45)

Dan beliau mematuhi perintah tersebut dan mengatakan :

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.” (Qur’an  27:91-92)

Nabi Muhammad mengadili perkara2 yang muncul pada kaumnya, tapi beliau TIDAK mengadili lewat hukum-hukum DILUAR Kitab Allah, seperti apa yang Allah perintahkan padanya :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang, karena (membela) orang-orang yang khianat” (Qur’an  4:105)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan Kitab sebelumnya dan Penguji terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Qur’an  5:48)

Sebagai hamba Allah yang taat, beliau mematuhi perintah ini dan TIDAK mengadili dengan apapun DILUAR hukum-hukum Allah yang diberikan kepadanya lewat Al-Qur’an. Beliau menyetujui fakta ini dengan mengatakan :

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci ?” (Qur’an  6:114)

Ayat diatas menunjukkan karakteristik spesial dari Sunnah Nabi Muhammad, yaitu beliau TIDAK mencari SUMBER LAIN selain Al-Qur’an sebagai dasar hukum dan peraturan.

Maka, dari analisis akhir kita, kita melihat seseorang yang pengampun, pintar dan sangat taat pada Allah. Beliau mengikuti Al-Qur’an, mengajarkan dengan Al-Qur’an, mengadili dengan Al-Qur’an, dan beliau HANYA melihat pada Al-Qur’an sebagai sumber hukum dan peraturan dan tidak pernah melihat sumber lain.

Di dunia Muslim saat ini, ada banyak sekte-sekte Islam dan mereka semua mengklaim bahwa mereka memiliki Sunnah Rasul yang “otentik” dalam bentuk Kitab Hadits. Mereka melihat kedalam kitab2 tersebut untuk mencari petunjuk dalam membuat hukum – hukum dan peraturan sampai peraturan2 yang mengatur kehidupan sehari2 mereka. Mereka melakukan ini sampai2 bila ada kasus dimana ada peraturan jelas dalam Qur’an, mereka lebih memilih mengambil peraturannya dari Kitab2 Hadits daripada Qur’an. Mereka membuat sebuat “ilmu” baru – mereka menyebutnya “Ilm al-Nasakh wal Mansukh”, yang berarti “Ilmu membatalkan dan yang dibatalkan”. Dalam ilmu ini, pemuka2 agama mereka bukan hanya mengklasifikasikan beberapa Ayat Qur’an membatalkan Ayat lain, tapi juga membuat beberapa Hadits membatalkan Ayat-Ayat Qur’an.

Mereka semua membaca Ayat2 Qur’an diatas, tapi tetap saja mereka bersikukuh bahwa mereka mengikuti Sunnah Rasul. Mari kita analisa klaim mereka:

  1. Rasul TIDAK mengikuti apapun selain Qur’an. Apakah mereka mengikuti sumber lain selain Qur’an? Kalau iya, maka mereka TIDAK mengikuti Sunnah Rasul.
  2. Rasul memberi peringatan dan mengajarkan lewat Qur’an. Apakah mereka menggunakan hal lain selain Qur’an untuk mengajari dan memberi peringatan? Kalau iya, maka mereka TIDAK mengikuti Sunnah Rasul.
  3. Rasul mengadili perkara2 menggunakan Qur’an. Apakah mereka menggunakan hal lain selain Qur’an untuk mengadili perkara2? Kalau iya, maka mereka TIDAK mengikuti Sunnah Rasul.
  4. Rasul hanya melihat kepada Kitab Allah yaitu Qur’an, sebagai sumber dari segala peraturan2 dan hukum2. Apakah mereka mengacu pada hal atau orang lain selain Qur’an sebagai sumber hukum? Kalau iya, maka mereka TIDAK mengikuti Sunnah Rasul
  5. Rasul sangat perngampun. Nabi Ibrahim bahkan sangat pengiba sampai2 dia bertanya jawab soal Kaum Luth yang homoseksual padahal malaikat2 sudah diturunkan untuk menghukum mereka. Apa mereka mengiba dan mengampuni para pendosa, atau mereka semangat untuk merajam dan membunuh manusia secara brutal walaupun hukum merajam TIDAK ADA di dalam Qur’an? Kalau mereka mengajukan hukum2 brutal, yang TIDAK ADA di dalam Qur’an, maka mereka tidak mengikuti Sunnah Nabi Muhammad dan Sunnah Nabi Ibrahim.

Allah sudah memprediksi keadaan Umat Muslim yang seperti ini didalam Qur’an. Dalam prediksi ini kita akan lihat sekali lagi bagaimana Allah mendefinisikan Sunnah atau jalan dari Rasul yang diabaikan oleh Umat. Kita akan menyimpulkan lewat Surah Furqaan (Furqaan adalah salah satu atribut Al-Qur’an – yang berarti sesuatu yang membedakan kebenaran dan kebohongan, The Criterion/Pemberi Kriteria)

Adegan ini diambil dari keadaan Hari Akhir. Kita mulai dengan Ayat dimana para Zalimun/orang yang zalim akan menyesal karena mereka tidak mengikuti jalannya Rasul:

“Dan hari ketika orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”” (Qur’an  25:27)

Mereka lalu mengutuk Syaitan yang menyesatkan mereka dari Dhikr (atribut lain dari Qur’an, yang berarti pelajaran/pengingat) :

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan (syaitan/orang yang menyesatkan) itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Dhikr(pengingat) ketika (Dhikr) itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (Qur’an  25:28-29)

Rasul sendiri akan komplain kepada Allah tentang bagaimana PENGIKUTNYA ternyata TIDAK mengambil JALANNYA. Seperti ini :

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Qur’an  25:30)

Lalu Allah memberitahu kita bahwa untuk setiap Nabi, akan ada musuh, dan musuh inilah yang menyesatkan orang2 dari Qur’an, yang tidak lain adalah Jalan dari Rasul :

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (Qur’an  25:31)

Di ayat tersebut Allah memberitahu kita bahwa bagi tiap2 Nabi akan ada musuh-musuh. Mungkin timbul pertanyaan, siapa musuh2 ini dan bagaimana mereka bisa membimbing orang2 MENJAUHI Qur’an – Jalan dari Rasul? Seperti yang kita ketahui, Allah TIDAK meninggalkan kita untuk menebak2, tapi menjelaskan apa yang Allah maksud dengan Tasreef al-ayaat, alias “mengulang ayat2”:

<unzur kaifa nusarriful a_ya_ti la’allahum yafqahu_n >

“Perhatikan bagaimana Kami mengulang2 Ayat-Ayat agar mereka memahaminya.” (Qur’an  6:65)

Maka dari itu kita cari didalam Qur’an untuk melihat seperti apa musuh-musuh ini. Kami menemukan deskripsi mereka yang sangat tepat di Ayat berikut :

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan  manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Qur’an  6:112)

Disini kita mendapat deskripsi tepat tentang musuh-musuh tersebut. Mereka akan datang dengan “perkataan indah”, alias cerita2 yang terdengar sangat bagus pada pendengarnya. Dengan cara inilah para musuh tersebut menyesatkan manusia dari Jalan Rasul – Qur’an. Tidaklah sulit melihat Umat Muslim saat ini memiliki banyak buku2 Fiqih dan Hadits, mereka bersikukuh bahwa kita harus membaca buku2 tersebut, dan Qur’an tidak bisa dimengerti tanpa “perkataan2 indah” ini. Syaitan  telah sangat sukses menipu Umat Muslim. Dia menggunakan cinta dan rasa hormat mereka terhadap Nabi Muhammad untuk sebenarnya menyesatkan mereka dari Sunnah Beliau – dan sementara itu Kaum Muslim justru berfikir bahwa mereka mengikuti Sunnah padahal yang dia ikuti justru “perkataan2 indah” yang TIDAK pernah Allah sahkan.

Dari Bab ini kita sudah melihat bahwa “suri tauladan terbaik” dari Rasul adalah untuk mengikuti Qur’an dan tidak mencari sumber lain selain Qur’an sebagai petunjuk dan bimbingan buat kita. Tetapi, pemegang Hadits tidak berhenti sampai disini. Mereka lalu mengeluarkan argumen “terkuat” mereka untuk mendukung “perkataan2 indah” ini. Mereka bersikukuh bahwa SEMUA yang Nabi katakan dalam hidupnya adalah Wahyu dari Allah. Dan ini, topik kita untuk Bab berikutnya.

Sebelumnya (Bab 01. Apakah Qur’an Sudah Komplit dan Mudah Dimengerti)

Home

Selanjutnya (Bab 03. Apakah Rasul menerima Wahyu lain selain Qur’an?)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.