Apakah Rasul menerima Wahyu lain selain Qur’an?
Bab 03
Apakah Rasul menerima Wahyu lain selain Qur’an?
Beberapa orang memakai ayat Qur’an ini tanpa mereferensikan pada ayat-ayat Qur’an lainnya untuk mengimplikasikan bahwa semua yang Nabi Muhammad katakan adalah Wahyu dari Allah :
“dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (Qur’an 53:3-4)
Qur’an menjelaskan dengan sangat jelas bahwa ucapan Nabi yang merupakan Wahyu tidak lain tidak bukan hanyalah Qur’an. Allah telah memberi perbedaan jelas antara Ucapan Nabi selaku manusia biasa dan “Wahyu” yang beliau bacakan. Kita bisa lihat bahwa Allah menegur Nabi didalam Qur’an dalam beberapa tempat. Ini beberapa contohnya :
“Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam kejujurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (Qur’an 9:43)
Pada Ayat diatas, Rasul ditegur karena kenapa beliau memberi izin pada para munafik sebelum jelas mana yang jujur dan mana yang berdusta. Kalaulah semua yang beliau ucapkan adalah Wahyu dari Allah, maka Ayat Qur’an diatas tidak akan diturunkan untuk menegur Rasul karena memberi izin pada para munafik untuk tidak mengikuti Jihad. Ini adalah bukti bahwa TIDAK semua yang Rasul lakukan atau ucapkan adalah Wahyu.
Lalu selanjutnya kita lihat lagi dalam Qur’an apa yang Allah katakan pada Nabi :
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qur’an 66:1)
Disini Allah menegur Nabi karena telah mengharamkan sesuatu untuk dirinya yang Allah sendiri TIDAK haramkan. Ayat ini sekali lagi memberitahu kita bahwa terkadang Nabi bertindak dengan inisiatifnya sendiri selaku manusia biasa TANPA Wahyu dari Allah. Kalau semua yang beliau lakukan atau katakan adalah Wahyu, beliau TIDAK akan ditegur oleh Allah dalam Qur’an karena telah mengatakan sesuatu yang Allah tidak ingin beliau mengatakannya.
Sekarang kita lihat dalam bukti Qur’an lainnya bahwa WAHYU yang diturunkan (Nazzala) pada Rasul tidak lain tidak bukan adalah Qur’an. Kita membaca ada sebuah keberatan yang diajukan para kafir ketika sebuah Ayat tidak diwahyukan kepada Nabi kenapa beliau tidak membuatnya sendiri :
“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?”” (Qur’an 7:203)
Kalau SEMUA yang Rasul ucapkan adalah WAHYU, maka keberatan ini akan tidak ada artinya karena semua yang beliau katakan pada mereka adalah “wahyu”.
Lalu Allah menantang orang-orang untuk membuat sesuatu yang mirip dengan Wahyu yang diturunkan kepada Rasul, Mari kita baca tantangan tersebut :
“Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah yang semisal itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Qur’an 2:23)
Disini kita bisa perhatikan bahwa tantangan untuk APA YANG ALLAH WAHYUKAN pada hambaNya, orang-orang ditantang untuk membawa satu SURAH. Apakah ucapan2 Nabi sehari2 tersusun dari Surah-Surah? Apakah ada buku lain di dunia ini selain Qur’an yang disusun berdasarkan Surah-Surah? Jawabannya TIDAK. Bahkan Kitab-kitab Haditspun tidak tersusun dari Surah-Surah. Hanya Qur’anlah yang disusun dari Surah-Surah. Maka, tantangan Allah adalah untuk <fa’tu_ bisu_ratim mim mislih> “maka buatlah satu surah yang semisal itu” terhadap <mimma_ nazzalna_ ‘ala_ ‘abdina> “apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami” menjelaskan pada kita bahwa apa yang Allah wahyukan pada hambaNya tersusun dari surah=surah, alias Al-Qur’an.
Lalu Allah menantang lagi :
“Bahkan mereka mengatakan: “dia telah membuat-buat itu”, Katakanlah: ” maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya <fa’tu_ bi ‘ashri suwarim mislihi muftaraya_ tiw>, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”” (Qur’an 11:13)
Lalu kita lihat para munafik takut ada Surah yang diwahyukan yang mungkin bisa membongkar kemunafikan mereka. Ucapan2 Nabi yang biasa selalu ada, tapi Qur’an memberitahu kita bahwa SURAHlah yang mereka takutkan akan membongkar kemunafikan mereka :
“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu.” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” (Qur’an 9:64)
Tidak hanya para munafik tapi kaum berimanpun terbiasa menunggu SURAH SURAH untuk melihat apa perintah- perintah Allah. Kalau semua yang Rasul ucapkan adalah Wahyu, maka tidak perlulah mereka menunggu sebuah SURAH :
“Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surah?” Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya kata perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.” (Qur’an 47:20)
Lalu Allah melarang orang-orang untuk mengajukan pertanyaan setelah Wahyu dari Qur’an telah selesai :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qur’an 5:101)
Disini orang-orang diperbolehkan mengajukan pertanyaan selama Qur’an sedang diwahyukan. Allah berkata bahwa ketika Qur’an sedang diturunkan, Dia akan menerangkan jawabannya pada mereka. Kalau ada “wahyu-wahyu” lain yang datang kepada Nabi selain Qur’an, maka larangan diatas tidak akan dibuat karena Allah bisa langsung “menurunkan” jawabannya pada Nabi lewat “wahyu lain” bahkan setelah Qur’an telah selesai. Ini membuktikan bahwa tidak ada hal lain yang diturunkan selain Qur’an .
Allah mengkonfirmasi apa yang Dia Wahyukan pada Rasul :
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. supaya (Al-Qur’an) itu memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Qur’an 36:69-70)
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab <auhaina_ ilaika qur a_nan arabiy yan>, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (Ibu kota) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.” (Qur’an 42:7)
Dan Rasul sendiri mengkonfirmasi hal ini bahwa apa yang di Wahyukan padanya adalah Qur’an :
“Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ini aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (Qur’an 6:19)
qul innama_ attabi’u ma_ yu_ha_ ilayya mir rabbi, ha_za_ basa_’iru mir rabbikum wa hudaw wa rahmatul liqaumiy yu’minu_n(a).Wa iza_ quri’al qur’a_nu fastami’u_ lahu_ wa ansitu_ la’allakum turhamu_n(a)
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Qur’an 7:203-204)
Disini Rasul mengatakan bahwa Whayu yang beliau terima adalah Qur’an.
Lalu Allah mengingatkan agar beliau memberi peringatan hanya dengan menggunakan Qur’an. Kalau ucapan beliau yang lain adalah Wahyu, maka Allah tidak akan menyuruhnya untuk mengingatkan dengan Qur’an:
“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (Qur’an 50:45)
“Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.”” (Qur’an 27:92)
Lalu Allahpun mengklarifikasi bahwa Dhikr yang Rasul dapatkan adalah SEPERTI PUISI. Allah melindungi RasulNya dengan mengatakan :
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. <Dhikrun wa Qur’an un mubeen>”( (Qur’an 36:69)
Disini Dhikr adalah sesuatu yang DIBACAKAN (karena disebutkan bahwa Dhikr tersebut BUKAN syair tetapi kitab). Ucapan2 biasa Nabi TIDAK dalam bentuk puisi.
Maka dengan cahaya dari bukti-bukti diatas, sudah sangat jelas bahwa ucapan2 biasa dari Nabi bukanlah Wahyu, tapi hanya Qur’an lah yang menjadi Wahyu dan Qur’an pulalah yang Allah bicarakan di ayat berikut ini :
“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (Qur’an 53:1-4)
Bahkan dalam Kitab Hadits pun ada Hadits yang mendukung pernyataan ini, silahkan lihat Hadits Bukhari Vol 4, Buku 52, No.283. Akhir kata, Bab ini ditutup dengan kesimpulan bahwa bukti-bukti diatas telah mengkontradiksi klaim orang-orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu lain selain Qur’an.
Sebelumnya (Bab 02. “Suri Tauladan” Terbaik, dalam diri Rasul)
Selanjutnya (Bab 04. Bagaimana Rasul menjelaskan Qur’an)