Bagaimana Rasul menjelaskan Qur’an
Bab 04
Bagaimana Rasul menjelaskan Qur’an
Satu hal yang sering diajukan oleh pemegang Hadits adalah bahwa Rasul bukanlah seorang tukang pos yang menyampaikan Qur’an lalu pergi. Walaupun, statement ini benar dan Rasul memang tidak menyampaikan Qur’an layaknya tukang pos, tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa penjelasan beliau ditemukan diluar Qur’an. Dalam bab ini, kita akan lihat bahwa penjelasan dari Rasul tersusun dari referensi silang pada Qur’an. Secara logis, tidaklah masuk akal untuk mengikuti buku yang dikompilasi 200 tahun setelah Rasul wafat untuk mencari penjelasan beliau, ketika beliau sendiri merawat ajaran dan penjelasannya didalam Qur’an.
Pemegang Hadits memakai ayat ini untuk menguatkan posisi mereka :
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mengikuti pelajaran <Dhikr> jika kamu tidak mengetahui, dengan keterangan-keterangan dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu sang pelajaran <Az-Dhikr>, agar kamu menerangkan <litubayyina> pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” (Qur’an 16:43-44)
Ada dua klaim dimana para pemegang Hadits pakai dari Ayat ini. Yang pertama adalah mereka bilang bahwa selain Qur’an, Rasulpun diberi “wahyu” lain yaitu “al-Dhikr”. Poin kedua adalah tentang kata “Bayyina”, yang berarti “klarifikasi/terang”. Maka para pemegang Hadits menyatakan bahwa Rasul diberi wahyu EKSTRA (al-Dhikr), dan beliau menggunakannya untuk melakukan penerangan EKSTRA (lituBayyina) dari Qur’an. Kita akan analisa Ayat ini, dengan perhatian khusus pada dua kata “al Dhikr”, dan “Bayyina”.
Kita lihat dulu kata al-Dhikr. Seraca literal artinya “sang pelajaran”. Sangat penting untuk diingat bahwa Allah menggunakan atribut2 yang berbeda untuk WahyuNya untuk memberi penekanan pada aspek2 yang berbeda. Jelas, kata “Qur’an” sendiri selain sebagai nama juga sebagai sebuah atribut dari Wahyu Allah. Kata al-Qur’an berarti “Sang Bacaan/Sang Proklamasi”. Allah menggunakan kata ini pada WahyuNya untuk menekankan fakta bahwa Wahyu ini harus DIBACA dan DIPROKLAMIRKAN secara terbuka. Kita lihat atribut2 lain dari Wahyu Allah didalam Qur’an. Ini beberapa diantaranya:
1.Al-Huda, yang berarti “Sang Petunjuk” karena Qur’an memang seharusnya memberi petunjuk.
2.Al-Furqaan, yang berarti “Sang Patokan” karena Qur’an memang digunakan sebagai patokan antara kebenaran dan kepalsuan.
3.Al-Kitaab, yang berarti “Sang Catatan Tertulis” karena Qur’an dicatat dengan tulisan.
Dari sisi yang sama, kata “Al-Dhikr”pun digunakan karena Qur’an memang dimaksudkan untuk diambil pelajarannya oleh manusia. Kita akan lihat bahwa Qur’an sendiri memberi banyak bukti bahwa “al-Dhikr” bukanlah wahyu tambahan, tapi hanyalah atribut lain dari Qur’an.
“Demikianlah, Kami membacakannya <Natluhu> kepada kamu sebagian dari bukti-bukti dan pelajaran yang penuh kebijaksanaan. <dhikril hakim>” (Qur’an 3:58)
Disini Dhikr diidentifikasikan sebagai sesuatu yang dibacakan (Tilawa). Satu2nya yang orang baca adalah Qur’an. Ucapan Nabi selain Qur’an tidaklah dibacakan. Lalu di Ayat berikutnya, Dhikr diidentifikasikan sebagai Kitab yang diturunkan :
“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. <dhikra_ lil mu’minin>” (Qur’an 7:2)
Lalu di Ayat berikutnya, Qur’an menunjuk pada dirinya sendiri sebagai Dhikr untuk seluruh dunia:
“Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka untuk ini, itu tidak lain hanyalah pelajaran bagi semesta alam. <dhikrul lil ‘a_lamin>” (Qur’an 12:104)
Di ayat berikutnya, Allah berjanji untuk memelihara Dhikr yang telah Dia turunkan. Hanya Qur’anlah yang para Muslim (dan bahkan beberapa non-Muslim) setujui telah dilindungi dipelihara kemurniannya dari segala jenis perusakan. Bahkan pendukung Hadits terkuatpun mengakui bahwa Hadits Nabi tidaklah dipelihara dan dijaga dari perusakan dan korupsi. Maka hanya Qur’an, yang masuk dalam definisi Dhikr disini.
“Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan pelajaran <Dhikr> kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?” Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan pelajaran ini <Dhikr>, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qur’an 15:6-9)
Dan di Ayat-Ayat berikutnya, Qur’an mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai Dhikr yang diberkahi :
“Dan Ini adalah suatu pelajaran yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Akankah kamu mengingkarinya?” (Qur’an 21:50)
“Maka berpegang teguhlah kamu kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya pelajaran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu <Dhikru laka wa le qaumika> dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (Qur’an 43:43-44)
Ayat2 tersebut seharusnya sudah cukup untuk melihat bahwa Al-Dhikr (Sang Pelajaran) adalah atribut lain dari Qur’an (Sang Bacaan). Tetapi, pikiran yang sudah terlalu lama tertutup oleh debu-debu tradisi mencegahnya untuk menerima kebenaran dan tetap saja kembali lagi serta bersikukuh dengan argumen2 lemah yang sama. Apapun itu, kita akan lihat lagi bukti2 lain yang menunjukkan bahwa Al-Dhikr adalah Qur’an :
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. <Dhikrun wa Quran un mubeen>” (Qur’an 36:69)
Disini Dhikr diidentifikasikan dengan Qur’an. Hal lain yang harus diperhatikan adalah Allah membela RasulNya dari tuduhan kaumnya yang mengatakan bahwa ini hanyalah syair. Pertanyaan yang harus diajukan adalah apakah Rasul biasa berbicara dengan bentuk puisi? Jawabannya tentu sangat jelas yaitu “Tidak”. Satu-satunya yang beliau bacakan adalah Qur’an, dan karena Dhikr disebutkan bersamaan dengan Qur’an sebagai sesuatu yang dibacakan, kita simpulkan dari sini bahwa Dhikr adalah atribut lain dari Qur’an.
Lalu diAyat berikutnya, Dhikr diidentifikasikan sebagai “Kitab yang mulia”, yaitu Qur’an. Selanjutnya, Dhikr inipun dijaga dan segala kepalsuan tidak bisa mendekatinya. Pilihlah satu koleksi Hadits manapun yang kamu suka, dan kamu akan menemukan Hadits palsu disitu. Maka, Dhikr adalah Qur’an.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari pelajaran <kaffaru biz Dhikre> ketika pelajaran itu datang kepada mereka, dan sesungguhnya itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Qur’an 41:41-42)
Kenapa Allah menggunakan kata Dhikr? karena salah satu tujuan dari Qur’an adalah untuk memberi PELAJARAN bagi manusia :
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran <walaqad yasarnal Qur’ana li-Dhikri>, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qur’an 54:17,22,32,40)
Hal ini ditekankan lagi ketika Allah memberitahu kita:
“Shaad, demi Qur’an yang penuh dengan Dhikr.” (Qur’an 38:1)
“Haa Miim. Demi Kitab yang menerangkan <Mubeen>. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami. Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung kebijaksanaan <Hakeem>. Maka apakah Kami harus berhenti menurunkan Dhikr kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?” (Qur’an 43:1-5)
Tanpa keraguan lagi, Ayat2 tadi telah menunjukkan bahwa Dhikr adalah salah satu atribut lain dari Qur’an. Agar keraguan tentang sifat Dhikr makin hilang Allah memberi tahu kita :
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat Dhikr (pelajaran) bagimu. Maka apakah kamu tiada menggunakan akalmu?” (Qur’an 21:10)
Lalu Allah membuat sangat jelas bahwa Dhikr, dimana Rasul memberi penjelasan, adalah Ayat yang Rasul sedang bacakan :
“…Sesungguhnya Allah telah menurunkan Dhikr kepadamu – seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan <Mubayyinaatin> supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya…” (Qur’an 65:10-11)
Nah, Ayat diatas telah menghilangkan keraguan kita bahwa Dhikr yang Rasul gunakan untuk menerangkan adalah Qur’an itu sendiri. Ini konsisten dengan Ayat Qur’an lainnya dimana Allah memberitahu Rasul bahwa Qur’an diturunkan pada beliau secara bertahap agar beliau bisa menjelaskan dan menjawab kaumnya saat diperlukan.
Eksposisi dari kata Dhikr di 16:44 menunjukkan bahwa Dhikr bukanlah penjelasan tambahan yang Rasul berikan melainkan penjelasan-penjelasan tersebut didapatkan dari Dhikr, yang telah kita tunjukkan disini, adalah Qur’an.
Tapi hati yang sakit butuh lebih banyak obat. Sekarang kita akan lihat kata kedua yang disalahartikan “Bayyina” yang digunakan di 16:44 dan melihat apakah Bayyina atau Penerangan yang Rasul bawa dari Qur’an juga atau tidak. Pertama kita lihat Ayat lain yang serupa dengan 16:44 yang diturunkan oleh Allah :
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menerangkan <litubayyina> kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Qur’an 16:64)
Disini kita melihat secara eksplisit bahwa TUJUAN dari KITAB adalah untuk menyediakan bagi Rasul dengan wahyu sehingga beliau bisa <litubayyina> menerangkan hal2 yang orang2 perselisihkan. Ayat ini sekali lagi telah menjelaskan bahwa Klarifikasi yang diberikan Rasul berasal dari KITAB.
Dan selanjutnya Allah mengkonfirmasi bahwa pada Hari Akhir, Nabi Muhammad akan menjadi SAKSI ATAS KAUMNYA karena tidak memperdulikan “Bayyina” yang beliau berikan lewat KITAB :
“Satu hari, Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) yang MENERANGKAN SEGALA sesuatu <tabayyina likulli shai’>, petunjuk ,rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qur’an 16:89)
Ayat ini menghapus keraguan bahwa KITAB ini mempunya klarifikasi <tabayyina> dari SEGALA SESUATU <likulli shai>. Maka inipun menghancurkan klaim salah bahwa Rasul memberi penjelasan ekstra dari luat Qur’an. Kalau Qur’an itu sendiri menerangkan SEGALA SESUATU, maka apa yang Rasul lakukan dengan memberi penjelasan “ekstra”. Kalau Rasul membuat penjelasan tambahan diluar dari Qur’an, maka secara logis berarti Qur’an TIDAK mengklarifikasi SEGALA SESUATU. Ini, secara jelas mengkontradiksi klaim Qur’an diatas.
Lalu di Ayat berikutnya Allah memberitahu kita lagi bahwa Klarifikasi yang Allah wahyukan ada didalam Kitab :
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan <bayyinati> dan petunjuk <al-Huda>, setelah Kami menerangkannya <bayyinahu> kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati oleh semua yang dapat mela’nati,” (Qur’an 2:159)
Maka Allah lah yang mengklarifikasi segala sesuatu bagi kita didalam Qur’an, dan Rasul membawa klarifikasi tersebut pada kita (Itulah maksud dari kata “Rasul”, seseorang yang membawa Risalah/Pesan). Tapi Rasul tidak membuat penjelasan ekstra diluar dari Kitab Allah. Selanjutnya kita akan lihat contoh bagaimana Rasul mengklarifikasi beberapa Ayat dengan mereferensikan Ayat2 lain dari Qur’an. Untuk sekarang, kita akan lanjutkan mengeksplor arti dari kata Bayyina seperti yang dideskripsikan didalam Qur’an.
Di Ayat berikut Allah menjelaskan lebih jauh bahwa Klarifikasi dan Petunjuk ada didalam Qur’an :
“Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk <Huda> bagi manusia dan keterangan-keterangan <Bayyinatin> mengenai petunjuk <al-Huda> itu dan pembeda <al-Furqaan>…” (Qur’an 2:185)
Kalau Qur’an mengandung klarifikasi dan seharusnya “mengklarifikasi SEGALA SESUATU”, maka apakah logis bila berasumsi bahwa Kitab itu sendiri butuh “klarifikasi” lebih lanjut oleh Kitab2 Hadits meragukan yang baru muncul 200 tahun setelah wafatnya Nabi?
Ada banyak tempat dalam Qur’an dimana Allah secara jelas menyatakan bahwa pemberi klarifikasi <Bayyina> adalah Ayat2 yang Dia turunkan pada RasulNya. Ini beberapa contoh dimana Bayyina secara langsung direlasikan dengan Qur’an :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk <al-Huda> itu jelas <tabayyina> bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Qur’an 47:24-25)
“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan <anzalna> kepadamu ayat-ayat yang menerangkan <Ayaatim Bayyinatin>; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” (Qur’an 2:99)
“Atau agar kamu mengatakan: “Sesungguhnya jikalau Kitab ini diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan <Bayyinatun> yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat…” (Qur’an 6:157)
Ayat2 tersebut sudah menjelaskan bahwa Klarifikasi datang dari Allah melalui KitabNya, yang dimana digunakan oleh Rasul untuk Menerangkan dan Memproklamirkan apa yang telah diwahyukan pada manusia. Tidak ada satu gram kebenaran dalam klaim bahwa Rasul memberi klarifikasi <Bayyina> ekstra, yang TIDAK ada didalam Qur’an. Tapi pemegang Hadits tetap berteriak dan bersikukuh bahwa Rasul memberi klarifikasi EKSTRA, dan yang aneh adalah, setelah diberikan bukti2 diatas, mereka tetap bersikukuh bahwa ketika Allah mengatakan <litubayyina> dalam 16:44 Allah maksudkan pada klarifikasi EKSTRA DILUAR Qur’an. Yap, hati yang sakit butuh lebih banyak obat. Kita akan lihat bentuk Bayyina yang SAMA di Ayat lain:
“Dan, ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab : “Hendaklah kamu menerangkan <litubayyinunahu> isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya, <la tuktumunahu>” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (Qur’an 3:187)
Disini Allah membuka secara jelas bahwa arti dari Bayyina adalah “Proklamirkan atau Terangkan” dan BUKAN memberi “penjelasan ekstra” karena “litubayyununahu” digunakan sebagai antonim dari “tuktumunahu”, yang berarti menyembunyikan. Kalaulah arti di 16:44 berarti PENJELASAN EKSTRA, maka di 3:187 akan berarti bahwa SEMUA orang2 yang diberi Kitab diperintahkan oleh Allah untuk memberi PENJELASAN EKSTRA. Maka, logikanya kita sekarang harus mencari hadits2 lain dari para pemegang Kitab untuk mendapatkan penjelasan ekstra tersebut.
Kesimpulannya, kita sekarang lihat bahwa tugas Rasul bukan hanya sekedar menyampaikan Qur’an layaknya tukang pos, tapi juga untuk membuat terang sesuatu pada orang2. Metodologi yang digunakan Rasul adalah memberi penjelasan atau memberi Tafsir dari Ayat2 Qur’an dengan menggunakan Ayat Qur’an LAINNYA. Kita akan melihat metodologi ini di Bab berikutnya. Saya tutup dengan Ayat yang menerangkan bahwa Ajaran Rasul <Daras> membuat Klarifikasi <Bayyina> yang tediri dari membaca Ayat2 Qur’an :
<Wa kaza_lika nusarriful a_ya_ti wa liyaqu_lu_ DARASTA wa LINUBAYYINAHU_ liqaumiy ya’lamu_n >
“Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami dan supaya mereka mengatakan: “Kamu telah mempelajari (daras)”, dan supaya Kami menerangkannya kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qur’an 6:105)
Sebelumnya (Bab o3. Apakah Rasul menerima Wahyu lain selain Qur’an?)
Selanjutnya (Bab o5. Tafsir Rasul)