Tafsir Rasul
Bab 05
Tafsir Rasul
Di Bab ini kita akan lihat sebuah contoh dari bagaimana Rasul melakukan Tafsir (atau penjelasan) pada Ayat2 Qur’an. Apakah beliau bersandar pada penjelasan luar atau apakah beliau menggunakan Qur’an itu sendiri untuk melakukan Tafsir? Kita akan lihat juga bagaimana Ayat yang sama “dijelaskan” oleh Kitab Hadits paling otentik yang dikompilasi oleh Bukhari.
Kita awali dengan Ayat ini :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qur’an 5:101)
Kita garisbawahi bahwa pertanyaan2 hanya boleh diajukan ketika Qur’an sedang diturunkan. Ini adalah bukti lain bahwa yang Nabi tidak menerima hal lain selain Qur’an; karena kalau bukan begitu, Allah bisa membuat Nabi menjawab pertanyaan2 tadi lewat wahyu “lain”. Nabi tidak langsung meninggal ketika Ayat terakhir Qur’an telah turun. Tapi Ayat diatas melarang pertanyaan-pertanyaan setelah Qur’an telah komplit. Ini konsisten dengan pesan2 Qur’an. Allah memberi tahu kita bahwa salah satu alasan kenapa Qur’an diturunkan secara bertahap adalah untuk menyediakan penjelasan (Tafsir) dan jawaban bagi pertanyaan2 orang2:
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya (ahsan al Tafsir).” (Qur’an 25:32-33)
Disini kita lihat 3 alasan utama kenapa Allah mengirim Rasul dan kenapa Dia menurunkan Qur’an secara bertahap:
- Untuk menguatkan hati Rasul sehingga beliau selalu merasa ada kontak berkesinambungan dengan Allah.
- Untuk memberi Rasul kebenaran <Haq> setiap kali ada orang2 yang memberinya contoh lain.
- Untuk menyediakan “penjelasan terbaik” <Ahsan al Tafsir>
Maka, Ayat2 Qur’anlah yang menyediakan “penjelasan terbaik”. Ayat inipun menunjukkan pada kita kenapa peran Rasul sangat penting. Pertama, Rasul adalah media dan agen dimana Allah berkomunikasi dengan umat manusia. Kalau Allah menyimpan Qur’an disuatu gua entah dimana, tidak ada seorangpun yang bakal mengetahuinya. Sebagai tambahan, sosok Rasul dan Wahyu yang diturunkan bertahap membuatnya lebih relevan bagi orang2. Seperti yang Allah katakan bahwa Ayat2 Qur’an diturunkan pada Rasul untuk memberinya kebenaran (tentang sebuah situasi) dan untuk menyediakan baginya penjelasan2 terbaik.
Tapi beberapa orang tetap bersikukuh bahwa Kitab Hadits mengandung penjelasan dari Ayat Qur’an. Mari kita lihat sebuah contoh. Lewat contoh ini, kita akan lihat bahwa klaim tersebut sangat absurd dan berkontradiksi dengan Qur’an. Allah memberitahu Nabi :
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelumnya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (Qur’an 12:3)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Ini bukanlah Hadits (narasi) yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Qur’an 12:111)
Ayat2 tadi mengkonfirmasi bahwa pengetahuan Nabi tentang kejadian masa lalu dan Rasul2 terdahulu datang hanya melalui Qur’an. Bila kita lihat pada Ayat 12:111, kita bisa lihat Allah memasukkan kata Hadits disitu, bukan kata Khabar atau kata2 lain yang mempunyai arti sama, tapi kata HADITS. Silahkan simpulkan sendiri Ayat tadi. Dan juga tidaklah logis bila kita berasumsi bahwa Rasul akan memberikan cerita2 lain yang hanya didasari rumor belaka daripada menggunakan “penjelasan terbaik”. Tapi, Kitab2 Hadits banyak menempelkan cerita2 dengan memakai kata “Rasul bersabda” didepannya yang sama sekali tidak mempunyai dasar dalam Qur’an, dan mereka mengklaim itu bisa “menjelaskan” Qur’an. Kita lihat contoh berikut. Allah menurunkan :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Qur’an 33:69)
Nah, bila ada sesorang yang menanyakan pertanyaan seperti “bagaimana orang2 tersebut menyakiti Musa?”, maka menurut 25:32-33 dan 12:3,111 diatas, Rasul akan menerima wahyu yang menjelaskan hal ini dengan “Ahsan al Tafsir”. Tapi kontras dengan ini, kitab Hadits menempelkan sebuah cerita, yang dimana tidak masuk akal dan absurd, juga tidak mempunyai basis dalam Qur’an :
“Telah dinarasikan padaku oleh Ishaq bin Ibraheem, seperti Ruh bin Ubadah memeberitahu kita, dari Auf yang diberitahu oleh Al Hasan, Muhammad dan Khilas, yang dia narasikan dari Abu Huraira yang mengatakan bahwa, Rasul bersabda, “Musa adalah orang yang pemalu dan biasa menutupi keseluruhan tubuhnya karena sifat pemalunya tersebut. Salah seorang dari Bani Israel menyakitinya dengan mengatakan, ‘Dia menutupi tubuhnya seperti ini karena ada cacat di kulitnya, entah leprosy atau scrotal hernia, atau dia memiliki cacat yang lain”, Allah menginginkan untuk membersihkan Musa dari tuduhan2 yang mereka katakan, maka satu hari ketika Musa sedang menyendiri, dia membuka seluruh pakaiannya dan menyimpannya diatas batu dan mulailah dia mandi. Ketika dia telah menyelesaikan mandinya. Di maju kearah pakaiannya untuk mengambilnya, tapi batu itu mengambil pakaiannya dan pergi; Musa mengambil tongkatnya dan dan mengejar batu tersebut setelah berkata ‘Hai batu! Kembalikan pakaianku!’ Sampai akhirnya dia sampai pada suatu grup dari Bani Israel yang melihat tubuhnya yang telanjang, dan menemukan kesempurnaan yang telah Allah ciptakan, dan Allah membersihkan Musa dari apa yang mereka tuduhkan. Batu itu berhenti disitu dan Musa mengambil pakaiannya dan mulai memakainya dan lalu memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, batu itu masih meninggalkan bekas dari pukulan2 itu, 3 ,4, atau 5 bekas. Inilah yang Allah maksud ketika mengatakan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Sahih Bukhari Vol 4 Hadits 616)
Ini sangat kontras dengan apa yang Allah katakan di 25:32-33 dan 12:3,111. Menurut Ayat2 tadi, penjelasannya pasti datang dari Qur’an. Dan memang benar datang dari Qur’an, cerita diatas hanyalah karangan seseorang belaka, yang dia rasa akan memberi signifikan yang lebih kalau dia membubuhkan kata “Rasul bersabda” didepannya. Inilah “Ahsan al Tafsir” dari Ayat 33:69.
Setelah Musa mengantar Kaum Israel dari Fir’aun, mereka berkata padanya :
“Mereka berkata: “Kami telah ditindas sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang”..” (Qur’an 7:129) <kedatangan Musa tidak merubah apa2>
Ketika Allah memberi mereka makanan, mereka berkata :
“Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja..” (Qur’an 2:61)
Ketika melewati sebuah lembah, orang2 ini melihat beberapa orang yang menyembah berhala2. Mengetahui benar bahwa Nabi Musa telah berdedikasi pada pengabdian hanya kepada Allah semata, mereka malah meminta kepadanya :
“…”Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui.”” (Qur’an 7:138)
Nabi Musa telah menunjukkan banyak Tanda2 dari Allah, tapi mereka malah mengatakan :
“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas…” (Qur’an 2:55)
Ketika Nabi Musa memanggil mereka untuk berperang, mereka mengatakan :
“..karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (Qur’an 5:24)
Dan juga lihatlah cerita di (2:67-71) ketika Allah memerintahkan mereka untuk mengurbankan seekor sapi, mereka tetap saja kembali ke Nabi Musa dan terus menanyakan hal2 detail yang tidak penting, sampai hampir2 mereka tidak bisa memenuhi perintah Allah tersebut.
Karena kelakuan2 seperti inilah Nabi Musa tersakiti oleh kaumnya :
“Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?”” (Qur’an 61:5)
Inilah bagaimana Rasul memberi “Klarifikasi” pada Ayat2 Qur’an – dengan menggunakan Ayat lain untuk membri Tafsir. Siapapun yang memiliki akal sehat bisa melihat bahwa penjelasan atau Tafsir yang diberi Qur’an pada ayat 33:69 adalah sangat JELAS dan konsisten dengan Sunnah Allah tentang bagaimana Dia berurusan dengan Rasul2 dan HambaNya. Cerita yang terdapat didalam Bukhari tidak lain tidak bukan hanya cerita ada-adaan belaka dan sebuah penghinaan pada cara Allah mengatasi masalah Rasul tercintaNya Musa.
Maka argumen bahwa Hadits memberi cahaya pada Qur’an adalah argumen tidak berdasar. Qur’an memberi bukti yang cukup bahwa Allahlah yang memberi cahaya pada Ayat2 Qur’an dengan menggunakan Ayat2 Qur’an yang lain.
Sebelumnya (Bab 04. Bagaimana Rasul menjelaskan Qur’an)
Selanjutnya (Bab 06. Taati Allah dan Taati Rasul)