Taati Allah dan Taati Rasul

15 Juli 2009 at 2:41 am (Artikel Inti)

Bab 06

Taati Allah dan Taati Rasul

Banyak orang yang memakai Ayat2 Qur’an yang memerintahkan kita untuk “Taati Allah dan Taati Rasul”, dan menyatakan bahwa Taati Allah dan Taati Rasul adalah dua hal yang berbeda – Taati Allah berarti mentaati Qur’an dan taati Rasul berarti mentaati kitab2 Hadits. Mereka menunjuk bahwa kalau mentaati Rasul disamakan dengan mentaati Qur’an Allah, maka harusnya Allah hanya akan menyatakan “Taati Allah” saja. Orang2 ini mengatakan bahwa adanya penambahan kata “taati Rasul” mengimplikasikan bahwa Rasul mengatakan hal2 EKSTRA diluar Qur’an yang harus kita patuhi.

Hal yang banyak dilupakan para pemegang Hadits adalah bahwa Allah tidak menyuruh kita berspekulasi tentang apa yang harus kita “taati”. Ayat2nya tidak berakhir dengan “Taati Allah dan Taati Rasul”, tapi berlanjut dan menyertakan apa tugas sang Rasul :

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan dengan terang. <wa ma_ alar rasu_li il lal balaghul mubin>” (Qur’an  5:92)

“Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri. Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (pesan Allah) dengan terang. <wa ma_ alar rasu_li il lal balaghul mubin>” (Qur’an  16:81-82)

“Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (pesan Allah) dengan terang. <wa ma_ alar rasu_li il lal balaghul mubin>”. (Qur’an  29:18)

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (pesan Allah) dengan terang. <wa ma_ alar rasu_li il lal balaghul mubin>” (Qur’an  64:12)

“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (pesan Allah) dengan terang. <wa ma_ alar rasu_li il lal bala_ghul mubin>” (Qur’an  24:54)

Nah, kalau kita lihat pada Ayat2 ini, kita melihat bahwa Allah telah secara jelas menunjukkan tugas dari Rasul, yaitu beliau harus MENYAMPAIKAN keterangan <Balaghul Mubeen>. Kita telah lihat bahwa keterangan atau pesan yang dibawa Rasul adalah Qur’an. Disini kita lihat term penting lain yang digunakan dalam Qur’an. Term ini adalah “Balagha”, yang berarti “sampai”, atau “pengiriman” dari Rasul.

Rasul menyampaikan Pesan. Maka “Taati Rasul” berarti mentaati pesan yang beliau bawa. Kita telah lihat di Bab-Bab sebelumnya bahwa Rasul mengajar, membacakan, menjelaskan dan hidup dengan Qur’an. Disini kita akan lihat bahwa yang disampaikannya <Balagha> adalah Qur’an:

“Ini <Haza> adalah pesan <Balaghu> yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan ini, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Qur’an  14:52)

Ayat ini menunjuk pada INI <haza>, yang berarti INI (menunjuk pada Qur’an sendiri) adalah pesan yang dibawa Rasul. Hal ini diklarifikasi lebih lanjut di Ayat berikutnya :

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Dhikr, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Sesungguhnya ini benar-benar sebuah pesan <Balaghan> bagi hamba-hamba Allah.” (Qur’an  21:105-106)

Tetapi beberapa orang mengatakan bahwa Ayat 21:106 menunjuk pada 21:105 dan bukan pada Qur’an (walaupun kata Dhikr ada disitu). Mereka tetap tidak mempunyai jawaban terhadap Ayat 14:52. Tetapi, kita tidak akan mengejar masalah ini lebih jauh karena Allah tidak meninggalkan PesanNya untuk dispekulasi tapi Dia menjelaskan apa yang Dia maksud. Mari kita lanjutkan membaca Qur’an :

“Hai Rasul, sampaikanlah <Baligh> apa yang diturunkan kepadamu <ma Unzila Ilaika> dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan, kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari kaummu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Qur’an  5:67)

Disini kata Baligh didefinisikan sebagai sesuatu yang diturunkan pada Nabi dari Allah <unzila>. Kita telah lihat di Bab-bab sebelumnya bahwa tidak ada hal lain yang diturunkan pada Nabi kecuali al-Qur’an. Tetapi, beberapa orang mungkin akan tetap bersikukuh bahwa ada “EKSTRA something” yang diturunkan dan “EKSTRA something” itu ada didalam kitab Hadits. Maka kita lanjutkan membaca Ayat setelah 5:67, dimana Allah menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang Dia turunkan :

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang DITURUNKAN kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (Qur’an  5:68)

Disini apa yang diturunkan pada Nabi dibandingkan dengan Taurat dan Injil, alias Al-Qur’an. Dijelaskan lebih lanjut bahwa Allah menurunkan <anzaka> Kitab kepada para Nabi.

“Manusia itu dulunya umat yang satu, dan Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan <anzala> bersama mereka Kitab yang benar,..” (Qur’an  2:213)

“Dia menurunkan <nazala> Al Kitab kepadamu dengan sebenarnya…” (Qur’an 3:3)

Tapi orang2 berkata bahwa bukan hanya Kitab yang diturunkan tapi juga wahyu EKSTRA yang dikenal dengan nama al-Hikma (kebijaksanaan) juga diturunkan. Mereka mngutip beberapa Ayat dari Qur’an untuk mengedepankan argumen ini. Ini salah satunya :

“..Dan Allah telah menurunkan <anzala> Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui…” (Qur’an  4:113)

Saya akan, Illa an yasha’a Allah, mengurus “Al-Hikma” nanti di Bab berikutnya. Untuk sekarang ini, kita akan mengutip beberapa Ayat Qur’an untuk menunjukkan bahwa Hikmah adalah bagian dari Kitab, dan al-Hikma yang diturunkan adalah Qur’an :

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan <anzala> Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit , mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Qur’an  2:174)

Disini kita melihat bahwa peringatan tersebut HANYA diberikan untuk menyembunyikan Kitab, dan bukan Hikmah. Apakah ini berarti mereka yang menyembunyikan “Hikmah” didalam Kitab Hadits tidak akan dihukum? Tidak, tapi jawaban yang tepatnya adalah Hikmah itu sendiri bagian dari Kitab dan menyembunyikan Kitab secara otomatis berarti menyembunyikan Hikmah juga.

“Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan <anzala> Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.” (Qur’an  2:176)

Kalau Hikmah adalah sesuatu yang terpisah dari Kitab, maka itu berarti boleh2 saja untuk berselisih soal Hikmah karena SATU2NYA yang disebut disini hanya Kitab. Oke, mari kita kembali pada kata “Balagha”.

Tidak ada gunanya bergulat dengan spekulasi kalau seseorang sudah punya “saksi terkuat”.

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan AL QURAN ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ini <Bihi> aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai <Balagha>…” (Qur’an  6:19)

Disini Rasul sendiri secara jelas menyatakan apa BALAGHAnya? Al-Qur’an. Maka untuk terus bersikukuh tanpa bukti bahwa Rasul menyampaikan sesuatu yang lain selain Qur’an berarti pembangkangan terhadap pernyataan Qur’an itu sendiri bahwa yang beliau sampaikan hanyalah pesan Qur’an.

Tapi argumennya tidak berakhir disini. Orang-orang tetap bilang bahwa “Taati Allah dan Taati Rasul” harus berarti bahwa kepatuhan pada Rasul dipisahkan dari kepatuhan pada Allah. Ini absurd, karena Rasul tidak mempunyai kekuasaan sama sekali kecuali karena alasan bahwa beliau DIKIRIM oleh Allah. Kalau Muhammad bukan menjadi Rasul Allah apakah orang2 diwajibkan mematuhinya? Jawabannya “TIDAK”. Maka “kepatuhan” pada Nabi ada KARENA beliau adalah Rasul Allah. Maka keduanya BUKANLAH bentuk kepatuhan yang terpisah – salah satu bergantung banyak pada pihak yang satunya lagi. Sama saja dengan mengatakan “makan apel dan makan nutrisinya”. Ini adalah bukti lanjutan dari Qur’an bahwa keduanya tidak terpisah:

“Dan suatu pengumuman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir akan siksa yang pedih.” (Qur’an  9:3)

Nah, apakah orang-orang mendengar Allah memberi pengumuman ini? Jawabannya “Tidak”. Dari BIBIR Rasul-Nyalah, Muhammad, maka mereka mendengar pengumuman ini. Tapi tetap ini dimaksudkan bahwa pengumuman ini datang dari Allah dan Rasul. Atau apakah orang-orang berpikir bahwa satu pengumuman datang dari Allah dan pengumuman LAINNYA datang dari Rasul?

Allah tidak berbicara pada seluruh umat manusia. Yang Dia lakukan adalah memilih seorang manusia sebagai instrument-Nya dan berkomunikasi lewat instrument-Nya tersebut. Siapa diantara para sahabat Nabi yang pernah mendengar perintah Allah secara LANGSUNG dari Allah? TIDAK ADA! Lalu bagaimana mereka bisa PATUH kepada Allah kalau begitu? Berdasarkan hal tersebut, menurut logika kacau diatas, yang harus Allah katakan adalah “Patuhi Rasul” karena HANYA melalui BIBIR Rasul lah mereka bisa mendengar Al-Qur’an.

Ayat berikutnya akan membuka lebih jauh bahwa kepatuhan pada Allah dan pada Rasul-Nya adalah SATU dan hal yang SAMA :

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya <anhu>, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),” (Qur’an  8:20)

Disini kaum beriman diidentifikasikan sebagai mereka yang mendengarkan Rasul yang menyampaikan hukum Qur;an pada mereka, diidentifikasikan dengan penggunaan kata ganti tunggal “anhu” (darinya). Ini mengkonfirmasi bahwa Allah dan Rasul-Nya bukan dua sumber hukum wajib dipatuhi yang terpisah, tapi sumber dari Hukum Suci yang harus dipatuhi HANYA Allah dan orang-orang HANYA bisa mendengar hukum2 suci ini melalui BIBIR Rasul-Nya.

Lalu kesombongan mereka yang terus menolak Qur’an makin terekpos ketika mereka secara kalut mengutip beberapa contoh dari para Nabi seperti Nuh, Luth, Hud dan Saleh dalam Qur’an dan mengatakan bahwa dalam “Ash Shu’ra” (Surah 26) orang-orang diperintahkan untuk mematuhi Nabi2 ini. Mereka bilang bahwa karena para Nabi ini tidak memiliki Kitab, maka mematuhi mereka akan berarti kepatuhan pada Rasul BERBEDA dari kepatuhan pada Allah. Qur’an sudah merefutasi klaim ini seperti yang sudah saya tunjukkan diatas. Tapi sebagai tambahan, Al-Qur’an mengkonfirmasi bahwa dalam setiap sejarah, Allah menurunkan Kitab. Ada Kitab yang langsung diberikan pada Nabi dan ada juga Kitab dari Nabi sebelumnya yang digunakan oleh Nabi selanjutnya :

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk mengabdi pada Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (HUKMAN) yang benar dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa tertentu ada Kitab (diturunkan). (Qur’an  13:36-38)

Dengan term tak pasti, Allah mengumumkan bahwa setiap Nabi memiliki Kitab di masanya- Status dari Nabi dan Kitab selalu terikat.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi hambaku dan bukan hamba Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Qur’an  3:29)

Ayat ini mengikat status antara Nabi dan Kitab. Kalau tidak, jika kita mengambil klaim tak berdasar bahwa beberapa Nabi dikirm tanpa Kitab maka Ayat ini hanya membatasi pada Nabi-Nabi yang membawa Kitab, dan maka dari itu para Nabi tersebut yang datang tanpa Kitab masih bisa menyuruh kaumnya untuk menjadi hambanya dan bukan hamba Allah?

Selanjutnya Qur’an memberitahu kita bahwa Allah memberi Kitab pada Nuh dan Lut dan keturunannya:

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat. Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah dan kenabian Jika orang-orang itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.” (Qur’an  6:84-89)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik.” (Qur’an  57:26)

Ayat-Ayat diatas telah membuat jelas bahwa SEMUA Nabi diutus dengan membawa Pesan Allah dalam bentuk Kitab, dan kepatuhan pada Rasul adalah kepatuhan pada pesan Allah yang Rasul bawa. Apakah pesan2 Allah pada Kitab tersebut terjaga dan terpelihara kemurniannya, itu masalah lain. Tapi, selama yang dibicarakan adalah Qur’an, Qur’an telah dijaga dan dipelihara kemurniannya – Saya telah menunjukkan sebelumnya bahwa Wahyu yang diturunkan pada Nabi Muhammad tidak lain tidak bukan adalah Al-Qur’an, dan karena itu, untuk mematuhi Rasul, kita harus mematuhi Qur’an.

Lagipula, spekulasi tentang kepatuhan pada Allah dan kepatuhan pada Rasul adalah terpisah, akhirnya malah membuat konflik dengan statement Qur’an yang jelas yang menyatakan Allah TIDAK berbagi kepada siapapun dalam Hukum-Nya atau Hukm.

“Hukm (Hukum dan keputusan) itu hanyalah kepunyaan Allah.” (Qur’an  12:40)

“dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan Hukm (Hukum dan keputusan).” (Qur’an  18:26)

Rasul sendiri bersaksi bahwa Hukum dan Keputusan hanya dari Allah sebagaimana diwahyukan melalui Rasul dalam Kitab-Nya :

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab ini kepadamu dengan terperinci?” (Qur’an  6:114)

Maka, para pemegang hadits sebenarnya hanya bersandar pada persangkaan dan spekulasi belaka ketika mereka berkata bahwa “mentaati Rasul” berarti mentaati perintah2 EKSTRA dari luar Qur’an; mereka tidak mempunyai bukti dari Qur’an untuk menguatkan argumen mereka – hanya persangkaan:

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Qur’an  10:36)

Sebelumnya (Bab o5. Tafsir Rasul)

Home

Selanjutnya (Bab 07. Al-Hikma, Wahyu terpisah dari Qur’an?)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.