Al-Hikma, Wahyu terpisah dari Qur’an?

16 Juli 2009 at 11:37 am (Artikel Inti)

Bab 07

Al-Hikma, Wahyu terpisah dari Qur’an?

Bab-Bab sebelumnya telah menyuguhkan banyak bukti untuk membuat kesimpulan bahwa Sunnah sejati dari Rasul adalah hidup dengan Qur’an, mengajari dengan Qur’an, mengadili dengan Qur’an, dan memberi penjelasan dengan Qur’an. Tetapi, terkadang manusia terlalu terpaku pada satu ideologi yang telah terprogram pada mereka sehingga mereka akan terus mencari setiap alasan yang bisa ditemukan untuk memvalidasi ideologi mereka.

Pemegang Hadits pun tidak ada bedanya. Kini mereka kembali dan mengutip Ayat berikutnya untuk menegaskan bahwa Allah menurunkan setidaknya dua Wahyu yang berbeda pada Nabi Muhammad, satu adalah Kitab <al-Kitaab>, dan yang satunya lagi adalah Hikmah <al-Hikma>.

“..Dan Allah telah menurunkan <anzala> Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui…” (Qur’an  4:113)

Selanjutnya kita akan lihat seperti halnya al-Dhikr (Pelajaran), al-Hikma (Hikmah) juga adalah salah satu atribut dari Qur’an. Qur’an bukanlah sebuah Kitab yang hanya berisi Hukum-Hukum dan Peraturan. Qur’an juga mengandung Hikmah dibalik hukum2 dan peraturan2 tersebut. Maka, ketika Allah berkata “Kitab dan Hikmah”, Dia menekankan bahwa Qur’an adalah “catatan tertulis” yang mengandung “Hikmah” dibalik statement2nya itu.

Sekarang kita akan lihat pada Qur’an untuk membuka arti dari “Al-Hikma”. Seperti yang sudah dibuka sebelumnya bahwa hal yang di”Bakagha” kan oleh Rasul adalah Qur’an, kita mulai dengan Ayat yang menghubungkan Balagha dengan Hikma :

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah pernyataan hikmah yang sempurna <Hikmatun Balighatun> maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (Qur’an  54:4-5)

Disini pernyataan <Balagha> adalah Hikma. Seperti sudah kita lihat diatas bahwa yang diBalaghakan adalah Al-Qur’an. Maka, Ayat ini telah membuka bahwa Hikma adalah sesuatu yang terdapat didalam Kitab dan bukan diluar.

Lalu di Ayat-Ayat berikutnya, Allah membuka bahwa Qur’an adalah Hikma :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan mengabdi kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (ketidaksabaran) dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.””

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.”

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (jangan terlalu kikir dan jangan terlalu pemurah -penulis)

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu alasan yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.”

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

“Kejahatan dari semua itu amat dibenci di sisi Tuhanmu.”

Ini adalah bagian hikmah <al-Hikmati> yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” (Qur’an  17:23-39)

Sekarang kita sudah lihat dari Ayat2 diatas bahwa Hikmah terdapat dalam Al-Qur’an dan bukan diluar.

Maka,

“Demikianlah, Kami membacakannya <Natluhu> kepada kamu sebagian dari bukti-bukti dan pelajaran yang penuh kebijaksanaan. <al-Dhikril al-hakeem>” (Qur’an  3:58)

Disini Allah mengikat hubungan Hikma dan Dhikr, dimana kita sudah membuka sebelumnya bahwa Dhikr adalah Al-Qur’an. Dan yang perlu diperhatikan adalah “pelajaran yang penuh kebijaksanaan” dibacakan <Natluhu>. Satu2nya Kitab yang dibacakan oleh Kaum Muslim adalah Al-Qur’an. Tidak ada seorangpun yang membacakan Hadits. Maka, Hikma adalah atribut lain dari Al-Qur’an.

Dan hal menarik yang harus diperhatikan adalah bahwa ajaran Rasul dari Kitab dan dari Hikma selalu dihubungkan dengan beliau membacakan Ayat-Ayat Al-Qur’an, mari kita lihat satu contoh :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan <Yatlu> kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qur’an  3:164)

Lebih lanjut lagi Allah menyatakan bahwa Dia memerintahkan kita untuk HANYA memegang KitabNya saja yang DIBACAKAN<Yutla>.

“Dan apakah TIDAK CUKUP bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan <Anzalna> kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan <Yutla> kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Qur’an  29:51)

Dari sini tidak ada keraguan lagi bahwa sesuatu yang dibacakan adalah Kitab dan segala sesuatu diluar Qur’an menjadi tidak relevan oleh Ayat ini. Maka jika Hikma, atau Dhikr adalah “wahyu lain” diluar Kitab, maka Ayat ini mengeluarkan mereka.

Pada Ayat 29:51 ini pun kita bisa melihat bahwa apa yang diturunkan <Anzalna> hanyalah Kitab semata (dan memang sudah cukup), yang kemudian dikonfirmasi lebih lanjut bahwa Hikma ada didalam Kitab.

Kita akan lihat bukti lain bahwa al_Hikma adalah sesuatu yang seharusnya dibacakan. Kita lihat disini bahwa Allah memerintahkan istri2 Nabi untuk membacakan al-Hikmah :

Wazakurna ma_ yutla_ fi buyu_tikun na min a_ya_til la_hi wal hikmah inal la_ha ka_na latifan khabira

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah DAN hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (Qur’an  33:34)

Tidak ada keraguan sama sekali dari Ayat ini bereserta Bukti2 sebelumnya diatas bahwa Hikmah adalah sesuatu yang dibacakan, dan itu adalah atribut lain dari Al-Qur’an. Tapi, beberapa orang bilang bahwa “Yutla” tidak harus diartikan sebagai “dibacakan” tapi bisa juga diartikan sebagai “membaca dari ingatan”. Mereka bersikukuh bahwa di Ayat ini, Hadits Nabipun diikut-sertakan dan istri2 beliau diinstruksikan untuk membaca Ayat2 Al-Qur’an dan juga Hadits Nabi. Klaim ini bukan hanya tak berdasar tapi juga cukup lucu. Pertama-tama, Qur’an menggunakan kata-kata “Tilawa”,”yatlu”,”Tatlu”,dll secara eksplisit untuk PEMBACAAN dari AYAT-AYAT AL-QUR’AN. Sebagai tambahan, pembacaan Hadits2 oleh istri2 Nabi bisa membuat suatu situasi yang cukup kocak. Akan agak aneh bila para Istri Nabi membacakan sesuatu seperti “Sang Rasul berdiri menghadap tembok lalu kencing”, dan bahwa “Sang Rasul melakukan hubungan sex dengan 9 wanita dalam 1 malam”, dan lalu “Sang Rasul mencungkil mata beberapa orang, lalu memotong tangan mereka dan kaki mereka lalu menyimpan mereka dipadang pasir sampai mereka mati kehausan”, dan bahwa “Sang Rasul menyuruh kita untuk tidak menulis apapun selain Qur’an dan kita dilarang menulis dan menyebarkan Hadits tapi tetap saja kita lakukan dan ngomong2 sekarang juga lagi dibacakan” (Silahkan lihat Hadits2 ini dibawah). Saya harap para pemegang Hadits bisa melihat betapa dipaksakan dan kacaunya “penjelasan” mereka.

Allah secara jelas menjelaskan pada kita bahwa Hikmah adalah atribut dari Qur’an :

“Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah <Kitaab al-Hakeem>.” (Qur’an  10:1)

“Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah.” (Qur’an  31:1-2)

“Yaa siin. Demi Al Quran yang penuh hikmah.” (Qur’an  36:1-2)

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami. Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi dan amat banyak mengandung hikmah” (Qur’an  43:3-4)

Ayat-Ayat diatas telah memberi bukti yang kuat bahwa Hikmah adalah salah satu atribut dari Al-Qur’an. Maka ketika Qur’an diturunkan pada Nabi, Hikmahnyapun secara otomatis diturunkan pada beliau.

Tetapi, beberapa orang tetap bersikukuh TANPA BUKTI bahwa Hikmah adalah wahyu terpisah dari Al-Qur’an. Allah membuang klaim semacam itu ketika Dia berfirman :

“Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menerangkan <Kitaab al-Mubeen>. sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Didalamnya dijelaskan SEGALA urusan yang penuh HIKMAH.” (Qur’an  44:1-4)

Disini Allah mengikat turunnya Kitab dengan Hikmah.

Ada banyak bukti yang mengarah pada kesimpulan bahwa Hikmah adalah atribut dari Al-Qur’an, dan sesuatu yang dibacakan. Qur’an bukanlah sekedar “Kitab” atau “Buku” yang berisi peraturan2 semata. Qur’an juga mengandung Hikmah dibalik peraturan2 dan hukum2 tersebut. Maka “Kitab dan Hikmah” berarti Hukum2 dan Hikmah dibalik Hukum2 tersebut. Inilah kemukjizatan dari Wahyu Allah – mengandung Hukum2Nya dan juga Hikmah dibalik hukum2 tersebut.

“Tetapi hati mereka itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan selain daripada ini, mereka tetap mengerjakannya. Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang mendapat hal baik di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong. Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayatKu selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadap Al Quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan tak berguna terhadapnya seakan-akan cerita di malam hari. Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (Qur’an  23:63-68)

“Dan ada di antara manusia , orang yang mempergunakan Hadits yang tidak berguna, tanpa pengetahuan, untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan <Tutla> kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah kabar pada dia ,tentang azab yang pedih.” (Qur’an  31:6-7)

Appendix Hadits :

Bukhari, Vol 1, Buku 5, No.282:

Dinarasikan oleh Anas bin Malik. Nabi biasa mengunjungi semua istrinya dalam satu malam dan beliau memiliki sembilan istri pada saat itu.

Bukhari, Vol 1, Buku 5, No.268:

Dinarasikan oleh Qatada : Anas bin Malik berkata, “Nabi biasa mengunjungi semua istrinya, selama siang hari dan malam hari dan jumlah mereka adalah sebelas.” Saya bertanya pada Anas, “Apa Nabi mempunyai kekuatan untuk itu?” Anas menjawab, “Kita biasa bilang bahwa Nabi diberi kekuatan layaknya 30 pria.” Dan Sa’id berkata dibawah otoritas  dari Qatada bahwa Anas berkata padanya bahwa hanya ada sembilan istri (bukan sebelas)

Bukhari, Vol 1, Buku 4, No. 255:

Dinarasikan oleh Hudhaifa’: Nabi dan saya sedang berjalan. Beliau berdiri, layaknya kalian berdiri, dibelakang tembok dan kencing. Saya pergi menjauh, tapi beliau lalu memanggilku. Maka saya datang dan berdiri dibelakang punggungnya sampai beliau selesai.

Bukhari, Vol 1, Buku 4, No. 224:

Dinarasikan oleh Hudhaifa: Pernah Nabi pergi ke sebuah perkampungan dan lalu kencing sambil berdiri. Beliau lalu meminta air maka saya baya padanya dan lalu beliau berwudlu.

Bukhari, Vol 1, Buku 4, No.234:

Dinarasikan oleh Abu Qilaba: Anas berkata, “Beberapa orang dari suku ‘Ukl’ atau ‘Uraina’ datang ke Madinah dan cuaca disana tidak cocok bagi mereka. Maka Nabi memerintahkan mereka untuk pergi ke kawanan Unta dan untuk meminum susu dan air kencingnya (sebagai obat). Maka mereka pergi dan melakukan yang diperintahkan dan setelah mereka menjadi lebih sehat, mereka membunuh penggembala unta dan mengusir semua untanya. Berita ini sampai di telinga Nabi di pagi hari dan beliau mengirim beberapa orang untuk mengejar mereka dan mereka ditangkap sore harinya. Beliau lalu menyuruh untuk memotong tangan mereka dan kaki mereka (dan dilakukan), dan mata mereka dicungkil dengan besi panas, mereka lalu ditempatkan di ‘Ak-Harra’ dan ketika mereka meminta air, tidak ada air yang diberikan pada mereka.” Abu Qilaba berkata, “Mereka telah melakukan pencurian dan pembunuhan, menjadi murtad setelah masuk Islam dan bertarung melawan Allah dan Utusan-Nya.”

Muslim, Zuhd 72; Hanbel3/12,21,39 :

“Muhammad berkata: ‘Jangan menulis apapun dariku KECUALI Al-Qur’an. Siapapun yang menulisnya, hancurkanlah tulisan itu.’”

Sebelumnya (Bab 06. Taati Allah dan Taati Rasul)

Home

Selanjutnya (Bab 08. Nenek Moyang Kita)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.