Nenek Moyang Kita

17 Juli 2009 at 7:53 am (Artikel Inti)

Bab 08

Nenek Moyang Kita

Ketika semua telah gagal, para pemegang Hadits kembali mengulang argumen-kuno mereka, “Orang tua kita dan guru-guru kita dan ulama-ulama kita tidak mungkin salah dan kami akan mengikuti jejak mereka”. Argument ini rapuh dan telah diidentifikasikan didalam Al-Qur’an sebagai hambatan terbesar dalam menerima kebenaran dari Wahyu Allah. Kapanpun Allah mengirim Rasul pada suatu kaum, mereka selalu menolak. Ini beberapa contoh kenapa banyak kaum tidak mau mengikuti Petunjuk yang dikirimkan oleh Rasul Allah :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Qur’an  2:170)

Ketika Nabi Nuh memanggil mereka menuju Petunjuk2 Allah, mereka berkata pada beliau :

“..Belum pernah kami mendengar seruan yang seperti ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (Qur’an  23:24)

Ketika Nabi Hud memberitahu kaumnya bahwa tidak ada seorangpun yang layak diberikan pengabdian kecuali Allah, mereka malah berkata :

“..Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya mengabdi pada Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa dilayani oleh bapak-bapak kami..?” (Qur’an  7:70)

Jawaban yang sama diberikan pada Nabi Saleh dan Nabi Syu’aib:

“..apakah kamu melarang kami untuk mengabdi pada apa yang dilayani oleh bapak-bapak kami ?” (Qur’an  11:62)

“Hai Syu’aib, apakah Shalat-mu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang diabdi oleh bapak-bapak kami” (Qur’an  11:87)

Ketika Nabi Ibrahim menunjukkan pada mereka bahwa mereka harus menggunakan Akalnya dan hanya mengabdi pada Allah, mereka membalas seperti ini:

“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.”” (Qur’an  26:74)

Ketika orang2 mendengar sesuatu yang “baru” dari Wahyu Allah, mereka kaget dan menolak untuk percaya karena mereka tidak pernah mendengarnya dari nenek moyang mereka. Ini responnya ketika Nabi Musa memberi mereka Wahyu yang jelas dari Allah :

“..kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu!” (Qur’an  28:36)

Ketika seseorang mengajak mereka untuk hanya fokus pada Wahyu Allah semata, mereka selalu menuduhnya telah membuat sebuah inovasi dan mencoba menyesatkan mereka dari jalan nenek moyang mereka yang “benar”. Ketika Nabi Muhammad datang ke kaumnya dan mulai menyampaikan Al-Qur’an, mereka menuduhnya sebagai pembawa inovasi dalam agama mereka dan nenek moyang mereka:

“..Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang diabdi oleh bapak-bapakmu” (Qur’an  34:43)

Kaum Muslim saat ini telah jatuh dalam perangkap syaitan yang sama. Mereka tetap bersikukuh bahwa semua dan segala sesuatu yang diwariskan oleh nenek moyang mereka adalah Islam. Banyak buku telah ditulis untuk menunjukkan kealiman dari ulama-ulama dan imam-imam mereka. Apakah orang-orang tersebut alim atau tidak hanya Allah yang tahu, tapi kaum Muslim terus bersikukuh bahwa karena mereka itu alim, maka mereka akan percaya apa yang pendahulu mereka percayai. Argumen ini secara logika sudah rapuh karena kealiman seseorang tidak jadi jaminan bahwa apa yang dia percayai adalah kebenaran. Kita juga harus ingat bahwa semua manusia mengalami proses pembelajaran dalam hidupnya dan akhirnya Allah-lah yang akan menentukan mana yang alim dan mana yang tidak karena hanya Allah yang mengetahui rahasia hati manusia yang paling terdalam. Al-Qur’an telah memberi jawaban simpel terhadap logika rapuh seperti ini :

“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. “ (Qur’an  2:141)

Maka, usaha setiap sekte/aliran yang terus bersikukuh untuk membuktikan bahwa ulama2 dan kumpulan hadits merekalah yang benar, usaha mereka tidak akan membawa apa2 karena hanya apa yang mereka ikuti dan apa yang mereka percayai sekaranglah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. “Kesarjanaan” Islam saat ini penuh referensi pada Hadits dan ulama-ulama terdahulu dan sangat sedikit mengambil dari Qur’an. Bahkan faktanya, kita bisa menemukan bahwa di banyak kasus Qur’an digunakan selama dibutuhkan saja untuk menunjuk pembaca pada sumber lain. Sebagai contoh, banyak usaha dilakukan dengan menggunakan hanya Ayat Qur’an yang berisi “Taati Allah dan Taati Rasul” untuk menguatkan dasar dari diskusi mereka, yang pada akhirnya berputar disekitar Hadits. Sampai ada perkataan bahwa pengetahuan Muslim saat ini adalah “dua Hadits dan satu Ayat Qur’an”, merujuk pada fakta bahwa kesarjanaan Muslim dan Hukumnya didasari dari Hadits daripada Kitab Allah.

Al-Qur’an merefutasi mental seperti ini dan dalam perkataan Nabi Yusuf, beliau berkata :

“Kamu tidak mengabdi pada yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya” (Qur’an  12:40)

Saat ini Al-Qur’an tersembunyi dibawah debu dari ribuan Kitab Tafsir dan Hadits, dan orang2 tetap bersikukuh bahwa seseorang harus pergi ke Syekh atau Imam mereka untuk bisa mengerti Kitab Allah. Ketika Ayat Qur’an dibacakan pada mereka, mereka menolak untuk mendengarnya kecuali bila Ayat tersebut mengkonfirmasi interpretasi dari ulama-ulama mereka. Kegiatan mengikuti secara buta ini adalah hasil langsung dari perbuatan orang2 yang menolak menggunakan nikmat Akal yang telah Allah berikan pada semua manusia. Daripada mempelajari Al-Qur’an dan melakukan Jihadnya sendiri, Kaum Muslim lebih suka mengikuti FORMULA2 yang didapat dari Kitab2 Ulama mereka dan dari Kitab Hadits. Allah tidak pernah memberi keotentikan pada Kitab lain kecuali Al-Qur’an. Untuk terburu-buru mengikuti Kitab lain dan orang lain hanya akan membawa kehancuran dihidup ini dan dihidup setelahnya :

“Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu ?. Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami mengikuti suatu jalan, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Qur’an  43:21-22)

“Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim. Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.” (Qur’an  37: 68-70)

Dan kenapa akhir mereka begitu destruktif? Karena ketika Ayat-Ayat Allah dibacakan pada mereka, mereka akan bersembunyi dibalik Kitab2 nenek moyangnya dan formula yang sudah ada daripada merenung pada Ayat2 tersebut :

“Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh perbuatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (Qur’an  23:104-106)

Setelah melihat masalah2 yang timbul karena mengikuti nenek moyang tanpa menggunakan Akal, kita akan pindahkan perhatian kita pada pertanyaan dari Petunjuk. Jika kita mempelajari Al-Qur’an secara individu, lalu siapa yang membimbing kita? Walaupun, cukup diperlukan untuk mempelajari Al-Qur’an bersama2 dengan pencari kebenaran yang lain, Petunjuk paling Final hanya datang dari Allah. Ya! Allah bisa membimbing kita dalam berbagai cara – Dia mungkin akan memilih untuk membimbing kita melalui seekor semut, atau pohon, atau bahkan ular beracun, dan tentu saja, bisa juga melalui para ulama. Tetapi, masalah muncul ketika manusia MENENTUKAN bagaimana mereka akan dibimbing. Seseorang HANYA boleh mencari petunjuk dari Allah, dan lalu kita serahkan pada Allah untuk menentukan bagaimana Dia akan membimbing kita.

Saat ini, Dunia Muslim sudah dipenuhi banyak ulama dan “penunjuk jalan” yang mengambil tanggung jawab untuk membimbing orang-orang untuk menuju kebenaran. Kebanyakan dari mereka mungkin tulus dan memang sangat diperlukan untuk seseorang membagi idenya dengan orang lain apabila dia berpikir bahwa idenya akan bisa menolong orang lain. Masalah utamanya, tetapi, bukanlah para ulama tersebut, tapi masalah utamanya adalah para pengikutnya. Para pengikutnyalah yang secara buta mengikuti apapun yang ulama2 mereka katakan. Sudah jadi tugas setiap individu untuk HANYA mencari petunjuk dari Allah dan untuk mempelajari Al-Qur’an dengan menggunakan Akal, yang bearti bahwa Qur’an haruslah digunakan sebagai Al-Furqaan (Pematok) untuk menilai kebenaran dibalik setiap statement para ulama dan guru2 kita.

Mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an mendefinisikan Petunjuk dan Siapa yang ditunjuk sebagai pebimbing :

“Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; PETUNJUK bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Qur’an  2:1-4)

Ayat-Ayat ini yang mengawali Surah Baqarah telah menjelaskan tujuan dan siapa pemakai Kitab ini, Al-Qur’an.

Jadi siapa yang Qur’an tunjukkan pada kita untuk mengetahui siapakah penyedia Petunjuk dan Bimbingan? SATU2NYA yang Qur’an tunjuk hanyalah Allah.

“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhir dan awal.” (Qur’an  92:12-13)

“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.” (Qur’an  2:120)

Pertanyaan logis selanjutnya adalah bagaimana kita mencari Petunjuk2 Allah?

“Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk <Huda> bagi manusia dan keterangan-keterangan <Bayyinatin> mengenai petunjuk <al-Huda> itu dan pembeda <al-Furqaan>…” (Qur’an  2:185)

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi PETUNJUK dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qur’an  7:52)

“Thaa Siin. Ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi PETUNJUK dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman” (Qur’an  27:1-2)

“Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi PETUNJUK dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. “ (Qur’an  27:76-77)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, Al Quran, yang serupa, lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah PETUNJUK Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (Qur’an  39:23)

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mengikuti PETUNJUK maka itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (Qur’an  39:41)

Dengan term tak pasti, Allah telah membuka fakta bahwa bila kita menginginkan Petunjuk-Nya maka kita harus pergi mencari Kitab-Nya – Al-Qur’an. Tidak ada Kitab lain (kecuali Kitab2 lain yang diturunkan Allah) yang ditunjuk oleh Allah sebagai tujuan untuk mendapat Petunjuk dan Bimbingan. Sebagai tambahan, Al-Qur’an juga memberi kita satu contoh bagaimana para Jinn Dibimbing hanya oleh Qur’an :

“Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadakuu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin , lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami.” (Qur’an  72:1-2)

“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.” (Qur’an  72:13)

Kita lihat dalam Ayat-Ayat tadi bahwa Nabipun tidak mengetahui kalau para Jinn sedang mendengarkan Al-Qur’an, sampai Ayat ini sampai pada beliau dan diturunkan kisah mengenai Jinn tersebut. Dari mana Jinn tadi mendapat Petunjuk? Apakah mereka menggunakan Hadits? Apakah mereka pergi dan “belajar” Qur’an secara “FORMAL” dibawah bimbingan seorang “Syekh, Imam dan Ulama”? Jawabannya tentu saja “TIDAK”. Jawabannya adalah mereka mendengarkan pada Al-Qur’an dan memperoleh Petunjuk dari situ dengan bantuan Allah.

Tapi beberapa orang akan berkata. “Tapi bagaimana dengan Kitab2 Hadits, dan bagaimana dengan para Ulama kita?”. Sekali lagi, Al-Qur’an telah menyediakan jawaban untuk itu :

“Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada kebenaran?” Katakanlah “Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.” Maka apakah Dia yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali bila diberi petunjuk? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.” (Qur’an  10:35-37)

Sangat penting untuk menggarisbawahi bagian dari Ayat-Ayat ini, yang berkata “Maka apakah Dia yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali bila diberi petunjuk? Mengapa kamu berbuat demikian? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”. Seperti apapun alim dan Shaleh nya seorang Imam atau Ulama, faktanya adalah dia tidak bisa mendapat petunjuk sama sekali kalau bukan karena Rahmat Allah. Maka, pertanyaan utamanya adalah “Siapa yang kita CARI sebagai petunjuk?” Apakah kita mencari para manusia yang dimana mereka sendiripun membutuhkan Petunjuk dari Allah, atau kita mencari langsung dari SUMBERnya? Jawabannya tentu sudah sangat jelas.

“Sesungguhnya apa yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah mereka itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Qur’an  7:194)

“Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,” (Qur’an  6:71)

Kalau Allah sudah secara jelas menyatakan bahwa Kitab-Nyalah yang seharusnya dicari sebagai Petunjuk, maka seharusnya sudah tidak ada lagi kata “jika”, “kalau”, “tetapi” terutama dari mereka yang setidaknya percaya bahwa Qur’an diturunkan oleh Allah. Tapi sedihnya, jalan Hadits sangatlah sulit ditinggalkan dan Kaum Muslim terus saja kembali lagi dan lagi untuk entah bagaimana mengotentikan Kitab lain selain Al-Qur’an – Mereka melakukan ini tanpa merenungkan konsekuensi dari perbuatan tersebut :

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qur’an  2:175-177)

Kenapa Dunia Muslim saat ini begitu tidak aman? Apakah karena kelakuan Dunia Barat, atau karena ulah mereka sendiri? Mereka yang membingungkan antara keterangan2 dari Al-Qur’an dengan kitab lain adalah orang2 yang bertanggungjawab terhadap situasi Dunia Muslim saat ini. Andai saja mereka tidak mencampuradukkan Petunjuk Allah yang jelas dalam Al-Qur’an dengan Kitab lain, mereka akan berada dalam keamanan saat ini seperti yang telah Allah janjikan.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qur’an  6:82)

“Dan di hari ketika Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu, dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qur’an  16:89)

Kenapa para Muslim sangat sulit untuk menempatkan kepercayaan mereka hanya kepada Allah? Ketika Allah sudah menjanjikan bahwa siapapun yang mencari hanya petunjuk-Nya maka dia akan dibimbing, lalu kenapa Muslim saat ini malah berlari kepada Ulama2 mereka hanya untuk mendapat fatwa (peraturan agama) untuk hal ini atau hal itu? Mungkin suatu hari nanti Dunia Muslim akan merubah sifat ini dan menempatkan kepercayaan mereka secara penuh kepada Allah. Jika Allah telah menjanjikan Petunjuk, maka Dia pun akan memberi tujuan dan maksud dari Petunjuk tersebut:

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang mencari petunjuk-Nya. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (Qur’an  19:76)

Sebelumnya (Bab 07. Al-Hikma, Wahyu terpisah dari Qur’an?)

Home

Selanjutnya (Bab 09. Arabic Syndrome)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.