Arabic Syndrome
Bab 09
Arabic Syndrome
Argumen dari pihak lain belum berakhir. Mereka kembali lagi dan berkata bahwa kalau kita tidak mencari Ulama kita untuk mendapatkan bimbingan lalu bagaimana kita bisa belajar Bahasa Arab untuk bisa membaca Al-Qur’an? Didalam Bab ini kita akan mendiskusikan argumen lemah mereka, yang bisa dipersingkat seperti ini:
Singkatnya, argumen mereka bisa disimpulkan seperti ini:
“Al-Qur’an adalah Kitab yang SEMPURNA, tapi untuk mengAKSESnya kita membutuhkan bahasa Arab, yang diajarkan oleh manusia yang tidak sempurna (alias, sumber LUAR). Maka, kalau kita menggunakan sumber luar (Bahasa Arab) untuk mengakses Al-Qur’an, kita HARUS juga menggunakan sumber-sumber luar seperti catatan sejarah yang disimpan oleh manusia, khususnya Kitab2 Hadits, untuk mengerti Al-Qur’an”.
Kita akan lihat bahwa argumen ini secara teologi dan secara logis adalah salah. Sebelum kita membahas Bahasa Arab, kita harus mengidentifikasikan KETERGANTUNGAN dasar dari keberadaan manusia. Ketergantungan ini dipisahkan menjadi dua kategori – Satu “Ketergantungan Dasar”, dan satu lagi “Ketergantungan Buatan”. Sebagai contoh, manusia mempunyai ketergantungan DASAR pada lidah untuk bisa berbicara. Tapi sebuah “stereo” atau Mikrofon adalah ketergantungan BUATAN sejauh kemampuan berbicara pada manusia.Dengan kata lain, Ketergantungan DASAR adalah sesuatu dimana seorang manusia TIDAK BISA melakukan sebuah fungsi tertentu tanpanya. Sementara ketergantungan BUATAN adalah sesuatu yang tanpanya, fungsi dasar masih bisa dilakukan tanpa masalah.
Nah, di Qur’an dikatakan bahwa Allah-lah yang MENCIPTAKAN kita, Tapi, tidak ada seorangpun dari kita yang datang ke dunia ini tanpa KEBERADAAN dari ORANG TUA kita. Maka ORANG TUA kita adalah ketergantungan DASAR dari keberadaan kita. Ini bukan berarti bahwa Allah TIDAK menciptakan kita dan orangtua kitalah yang menciptakan kita – ini berarti bahwa ini adalah bagian dari keberadaan dasar kita karena kita hidup dalam dunia yang berwujud.
Saya yakin bahwa sebagian besar dari kita memiliki bibi2 dan paman2 yang mencintai kita dan mungkin membantu orang tua kita dalam merawat kita. Tetapi, bibiku dan pamanku TIDAKLAH dibutuhkan untuk keberadaanku. Saya pasti bisa tetap datang ke dunia dan tumbuh dewasa TANPA bibi2 dan paman2ku. Jika ada yang bilang bahwa karena saya butuh keberadaan orang tuaku untuk menjadi ada, maka sayapun butuh keberadaan bibi dan pamanku agar aku bisa muncul ke dunia, ini secara logis adalah argumen yang salah. Masalah logis disini adalah bahwa orang tersebut menggunakan satu set, “A” (Orang tuaku dalam kasus ini) untuk membentuk sebuah alasan, dan set lain, “B” (bibi dan pamanku) untuk membentuk sebuah kesimpulan.Dalam kasus ini, karakteristik dari set A adalah BERBEDA dari karakteristik set B ketika dilihat dari konteksnya yaitu KEBERADAANKU.
Hal kedua yang harus diperhatikan dari contoh diatas adalah walaupun orang tua ku mungkin DIPERLUKAN untuk keberadaanku, tapi mereka TIDAK mengambil posisi sebagai Sang Pencipta. Mereka ada disana karena itulah mekanisme yang dirancang oleh Sang Pencipta untuk menggerakkan terus menerus keberadaan umat manusia.
Sekarang mari kita lihat contoh dari Bahasa Arab. Allah berkata pada kita dalam Al-Qur’an :
“Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (Qur’an 55:1-4)
Maka, manusia sangat bergantung pada “pandai berbicara” <bayaan> untuk berkomunikasi dengan sesama manusia dan tentunya, untuk berkomunikasi secara verbal, ras manusia bergantung pada keberadaan bahasa dan ucapan. Seperti halnya seseorang membutuhkan telinga untuk bisa mendengar, lidah untuk bisa berbicara, hidung untuk mencium bau, otak untuk berpikir dan orang tua untuk keberadaan, dia juga membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.
Al-Qur’an sudah CUKUP untuk kita, tapi didalam dunia fana yang penuh ketergantungan ini, untuk mengakses kalimat2nya, manusia secara dasar bergantung pada setidaknya beberapa hal dibawah ini :
1.Keberadaan seorang manusia untuk membacanya
2.Manusia tersebut harus mempunya otak yang berfungsi secara baik untuk bisa memahaminya
3.Manusia tersebut membutuhkan mata untuk bisa melihat kalimat2nya, atau telinga untuk mendengar jika manusia tersebut buta atau tidak bisa membaca.
4.Manusia tersebut membutuhkan tangan untuk membawa Al-Qur’an dan membuka halamannya saat dia membacanya.
5.Manusia tersebut harus mengetahui bahasa yang bisa membuat wajar tulisan2 dihalaman2 itu. (Untuk membaca Arab yang Original, manusia tersebut HARUS mengetahui Bahasa Arab. Untuk membaca translasi, manusia tersebut HARUS mengetahui bahasa dari translasi tersebut)
Bila salah satu dari panca indera diatas tidak berfungsi, seseorang mungkin tidak bisa membaca/mendengar atau mengerti Al-Qur’an. Bandingkan hal ini dengan contoh ORANG TUA, ketika keberadaanku bergantung pada orang tuaku. Sama dengan itu, kemampuan seseorang untuk membaca/mendengar pada Qur’an didasari dari karakteristik2 di atas. Maka karakteristik2 tersebut adalah ketergantungan DASAR untuk membaca/mendengar Al-Qur’an.
Siapapun dengan panca indera seperti ini dapat membuka Al-Qur’an dan mulai membaca Al-Qur’an. Ilmu dari Hadits/Sejarah, tetapi, tidak memiliki kualitas DASAR ini. Silahkan bandingkan dengan contoh dari para bibi dan paman, yang tidak diperlukan untuk keberadaanku didunia. Maka, seluruh argumen mereka yang membandingkan Bahasa Arab dengan Hadits sangatlah tidak logis dan sangat keliru – seseorang harus mengetahui Bahasa Arab/bahasa translasi untuk memahami Al-Qur’an, tapi bukan berarti bisa diimplikasikan bahwa seseorang harus mempelajari Kitab2 Hadits juga untuk memahami Al-Qur’an.
Setelah melihat karapuhan logika dari argumen tadi, mari kita lihat juga konsekuensi lain dari argumen seperti itu. Nabi Muhammad BERGANTUNG pada Bahasa Arab untuk menerima dan mengajarkan Al-Qur’an. Dari siapa beliau mempelajari Bahasa Arab tadi? Dari kaum Kafir (Pengingkar) yang sama yang jadi musuhnya. Karena Nabi Muhammad BERGANTUNG pada kaum KAFIR untuk mendapat Bahasa Arab, apakah berarti beliau juga harus menerima sejarah dan Bimbingan versi MEREKA? Jawabannya adalah TIDAK. Kenapa? Karena bahasa adalah karakteristik DASAR dari keberadaan manusia, sedangkan tidak untuk sejarah tertulis/oral. Argumen yang sama bisa diaplikasikan pada semua Sahabatnya dan SEMUA orang shaleh sebelum dan sesudah beliau.
Argumen ini pun bisa diaplikasikan pada asHaab ul-Kahf (para penghuni gua). Mereka tidak dididentifikasikan sebagai Nabi dalam Al-Qur’an, tapi sebagai “Pemuda Shaleh”. Mereka meninggalkan kaumnya karena kaumnya tidak adil. Bukankah asHaab ul-Kahf bergantung pada bahasa yang DIAJARKAN oleh kaumnya untuk membaca/berbicara dan berkomunikasi dengan satu sama lain tentang apa yang benar dan apa yang salah? Maka, berdasarkan argumen dengan logika rapuh tadi diatas, mereka pun harus menerima Hukum2 dan sejarah versi kaumnya yang ditulis oleh orang2 yang sama yang memelihara bahasa mereka.
Dapatkah Siti Maryam mengerti apa yang malaikat katakan padanya tentang Nabi Isa kalau saja dia tidak mengetahui Bahasa Aramaic dari para kaum Yahudi yang merupakan kaumnya? Jawabannya adalah TIDAK. Dia bergantung pada bahasa yang DIAJARKAN oleh kaum yang sama yang dikemudian hari akan mencoba membunuh anaknya.
Mari kita pindah ke masa modern. Apakah Bahasa Inggris adalah Bahasa asli dari leluhur Rev. Martin Luther King Jr. di Afrika? Jawabannya adalah TIDAK. Itu adalah bahasa dari pimpinan perbudakan yang membawa leluhurnya dari Afrika. Tetapi, Martin Luther King BERGANTUNG pada Bahasa Inggris untuk MEMPELAJARI hukum2 dan konstitusi dari Amerika Serikat. Itu adalah bahasa yang sama (diperkenalkan pada leluhurnya oleh PIMPINAN PERBUDAKAN) yang dia gunakan untuk mengekspresikan dirinya sendiri dengan fasih dalam pertarungannya untuk hak2 sipil dan kesetaraan antara ras di Amerika Serikat. Tetapi, jika dia bergantung pada pimpinan perbudakan dari leluhurnya untuk mempelajari Bahasa Inggris, dimana dia sendiri mempelajarinya dari orang tuanya, apakah itu berarti dia harus menerima sejarah dan keadilan versi mereka? Jawabannya tentu saja TIDAK.
Kita telah lihat kesalahan logis dan konsekuensi dari mengikuti argumen seperti tadi. Argumen ini hanyalah contoh dari “drowning man clutching onto a straw” (Orang tenggelam yang bertahan dengan memegang sebuah sedotan). Para pemegang Hadits TIDAK mempunyai bukti untuk Hadits mereka dari Al-Qur’an. Maka mereka siap untuk memegang pada apapun yang terpikirkan oleh mereka tanpa merenungkan implikasi logis dari argumen2 mereka.
Sebagai kesimpulan, Saya juga ingin menggarisbawahi bahwa walaupun pengetahuan dari Bahasa Arab diperlukan untuk MENGAKSES teks Qur’an yang original; Itu BUKAN hal yang MENDEFINISKAN arti2 dari Al-Qur’an. Al-Qur’an mendefinisikan artiannya sendiri. Siapapun yang mempelajari Al-Qur’an dengan teliti akan melihat bahwa Al-Qur’an itu sendiri mendefinisikan artian2 Quranic dari (banyak) kata2. Ini beberapa contohnya : Kata “Kaffir” dalam Arab Klasik berarti “seseorang yang ingkar”. Tetapi, Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk mengartikan “seseorang yang ingkar terhadap Pesan Allah”. Ahli2 Sejarahpun memberitahu kita bahwa Kaum Musyrik Mekah mengetahui tentang Allah. Tapi Al-Qur’an mendefinisikan Allah sebagai “Satu dan Satu2nya Tuhan” dengan atribut2-Nya yang banyak (mis. Yang Maha Pengasih, Yang Maha Adil, dll). Bahkan faktanya, ketika seseorang membaca Ak-Qur’an, orang itu akan melihat bahwa Al-Qur’an mendefinisikan terminologinya sendiri dan tidak selalu harus bergantung pada terminologi Arab Klasik yang digunakan pada masa itu. Sebagai tambahan, Al-Qur’an tidak diperuntukkan hanya untuk Kaum Arab, tapi untuk semua orang yang mencari Petunjuk dan Bimbingan dari Allah :
“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apa! bahasa asing atau Arab. Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”” (Qur’an 41:44)
Sebelumnya (Bab 08. Nenek Moyang Kita)
Selanjutnya (Kesimpulan)