ISLAM SEBAGAI KEDAMAIAN

29 Agustus 2009 at 1:54 pm (Artikel Tambahan)

ISLAM SEBAGAI KEDAMAIAN

Saat kalian membaca judul ini, mungkin beberapa dari kalian sudah mengantisipasi bahwa yang akan saya bicarakan di artikel ini adalah tentang pengertian dari kata “Islam”. Judul tersebut adalah kesimpulannya. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana kesimpulan tersebut bisa tercapai dan juga akan mengajak anda menjelajahi beberapa implikasi menakjubkan yang terjadi karenanya.

MELIHAT KEMBALI SEBUAH NAMA

“Dan berjuanglah kamu pada jalan Tuhan dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesulitan dalam Deen (Jalan Hidup/Sistem). ajaran orang tuamu Ibrahim. Dia (Tuhan) telah menamai kamu sekalian orang-orang penuh damai (“al-muslimeen”) dari dahulu, dan dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka teguhkanlah shola/komitmen pembelajaran, laksanakan zaka/pemurnian/perbaikan dan berpeganglah kamu pada Tuhan. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (Qur’an  22:78)

Nama Kepemilikan (Proper Names) tidak ditranslasikan. Maka nama-nama seperti Ibrahim/Abraham, Ismail/Ishmael, Ishak/Isaac dan Maryam/Mary akan tetap serupa dalam bahasa Ibrani/Hebrew, Inggris dan juga Arab dengan beberapa perbedaan tanda vokal dan misprononkasi persilangan bahasa. Sebagai contoh, Ibrahim adalah nama kepemilikan dan karena itu dalam Al-Qur’an, nama tersebut tidak ditranslasikan menjadi artian Arab dari apa yang sebelumnya dimaksudkan dari bahasa Kana’an, Akkadian tua atau bahasa apapun yang dahulu digunakan Ibrahim.

Disisi lain, mari kita pikirkan tentang kata “al-muslimeen” di 22:78 ini untuk beberapa menit. Apakah para pengikut Ibrahim telah diberi nama sesuatu yang dimana kata tersebut berasal dari bahasa yang baru ada dimasa depan setelah jaman Ibrahim? Tentu saja tidak!

Mengajukan bahwa “al-muslimeen” di ayat 22:78 sebagai nama kepemilikan sama dengan mengajukan bahwa masyarakan Jepang 1400 tahun yang lalu telah mengetahui arti kata “Pokemon” jauh sebelum brand Pokemon sendiri diciptakan. Mengatakan “Pokemon” pada masyarakat Jepang 1400 tahun yang lalu atau “al-muslimeen” pada pengikut Ibrahim beberapa ribu tahun sebelumnya akan terdengar sama anehnya dengan perkataan “khjyitueueue” pada anda yang membaca artikel ini. Dan akan tetap terdengar aneh bagi anda walaupun ribuan tahun dari sekarang akan ada bahasa yang memakai kata “khjyitueueue” sebagai kata yang mempunyai arti. Maka jelas sudah bahwa “al-muslimeen” adalah kata umum dan sudah seharusnya ditranslasikan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kata umum “al-muslimeen” seharusnya ditranslasikan?

Kata “al-muslimeen”, ditranslasikan secara umum sebagai “orang yang tunduk patuh”. Tapi apakah “orang yang tunduk patuh” adalah translasi yang tepat untuk “al-muslimeen”? Mungkin saja benar, beberapa orang telah menunjukkan bahwa artian “tunduk patuh/orang yang tunduk patuh” terdengar tidak komplit. Dan juga wajar bila muncul pertanyaan “tunduk patuh” pada apa?

Karena “al-muslimeen” adalah kata umum dan tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk “pada apa?” yang diberikan di ayat 22:78. Maka masuk akal apabila ada translasi yang lebih baik, maka translasi tersebut haruslah mengandung kata yang bisa berdiri sendiri dan tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Langkah pembelajaran selanjutnya adalah untuk melihat seluruh Ayat dimana akar kata Arabic “SLM” dan derifatif2nya muncul untuk melihat garis umum yang terjadi dari setiap kemunculannya. Dalam banyak ayat, artian kata “damai” lebih terlihat pas dan sesuai. Sebagai contoh, 47:35, 8:61, 4:90-91, 4:92, 4:94, 5:16, 6:54, 6:127, 7:46, 8:61, 10:10, 10:25, 11:48, 11:69, 13:24, 14:23, 15:46, 15:52, 16:28, 16:32, 16:87, 19:15, 19:33, 19:47, 19:62, 20:47, 21:69, 25:63, 25:75, 27:59, 28:55, 36:58, 37:79, 37:109, 37:120, 37:130, 37:181, 39:73, 43:89, 50:34, 51:25, 56:26, 56:91, 59:23, 97:5.

Bisa dilihat juga bahwa bentuk sama persis dari “SLM” digunakan di Ayat2 seperti 2:208, 8:61, 16:87 dan 47:35. Tetapi hampir semua translator mengartikan bentuk yang sama tadi dalam 2 cara yang sangat berbeda di Ayat2 itu. Beberapa diartikan sebagai “tunduk patuh” dan di tempat lain diartikan sebagai “damai”. Sebagai contoh, mari kita lihat 2:208 dan 47:35.

002.208

YUSUFALI: O ye who believe! Enter into Islam whole-heartedly; and follow not the footsteps of the evil one; for he is to you an avowed enemy.

PICKTHAL: O ye who believe! Come, all of you, into submission (unto Him) ; and follow not the footsteps of the devil. Lo! he is an open enemy for you.

SHAKIR: O you who believe! enter into submissionone and all and do not follow the footsteps of Shaitan; surely he is your open enemy.

KHALIFA: O you who believe, you shall embrace total submission; do not follow the steps of Satan, for he is your most ardent enemy.

DEPAG: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

047.035

YUSUFALI: Be not weary and faint-hearted, crying for peace, when ye should be uppermost: for Allah is with you, and will never put you in loss for your (good) deeds.

PICKTHAL: So do not falter and cry out for peace when ye (will be) the uppermost, and Allah is with you, and He will not grudge (the reward of) your actions.

SHAKIR: And be not slack so as to cry for peace and you have the upper hand, and Allah is with you, and He will not bring your deeds to naught.

KHALIFA: Therefore, you shall not waver and surrender in pursuit of peace, for you are guaranteed victory, and GOD is with you. He will never waste your efforts.

DEPAG: Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.

Tidak seperti “tunduk patuh” yang tidak masuk secara pas kedalam 47:35 dan 8:61, “damai/ledamaian” masuk secara sempurna dalam Ayat2 tersebut. Maka, Ayat2 seperti 2:208 dan 16:87 menjadi cukup masuk akal ketika memasukkan “damai/kedamaian” dalam translasi itu. Sebagai contoh, ini Ayat 2:208:

002.208

YUSUFALI: O ye who believe! Enter into peacefulness whole-heartedly; and follow not the footsteps of the evil one; for he is to you an avowed enemy.

PICKTHAL: O ye who believe! Come, all of you, into peacefulness; and follow not the footsteps of the devil. Lo! he is an open enemy for you.

SHAKIR: O you who believe! enter into peacefulness one and all and do not follow the footsteps of Shaitan; surely he is your open enemy.

KHALIFA: O you who believe, you shall embrace peacefulness; do not follow the steps of Satan, for he is your most ardent enemy.

DEPAG: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam kedamaian secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Jika “Islam” berarti kedamaian dan “muslim” berarti orang penuh damai atau pembuat damai maka apa implikasinya? Kenapa konsep kedamaian begitu penting?

PENTINGNYA KEDAMAIAN

Agar bisa lebih memahami bagaimana konsep kedamaian bisa begitu penting didalam Al-Qur’an, bahkan ketika tidak sedang disebutkan, mari kita ambil sebuah contoh.

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu pemimpin-pemimpin di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat hukuman-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qur’an  6:165)

“Dia-lah yang menjadikan kamu pemimpin-pemimpin di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (Qur’an  35:39)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (pemimpin) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (Qur’an  2:30)

Dengan pemahaman ini, mari kita pelajari kembali Ayat 22:78. Tanda-tanda mengenai ini sebenarnya sudah berada disini.

Dan berjuanglah kamu pada jalan Tuhan dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesulitan dalam Deen (Jalan Hidup/Sistem). ajaran orang tuamu Ibrahim. Dia (Tuhan) telah menamai kamu sekalian orang-orang penuh damai (“al-muslimeen”) dari dahulu, dan dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka teguhkanlah shola/komitmen pembelajaran, laksanakan zaka/pemurnian/perbaikan dan berpeganglah kamu pada Tuhan. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (Qur’an  22:78)

Kita diberi tahu bahwa ada dua alasan kenapa kita diberi nama “orang yang penuh damai”:

  1. Rasul akan menjadi saksi atas kita.
  2. Kita akan menjadi saksi atas segenap manusia

Definisi dari saksi bisa disimpulkan sebagai seseorang yang mentestisifikasikan kebenaran didepan sebuah permasalahan atau perselisihan. Kita juga tahu dari Al-Qur’an bahwa Rasul dan Pesan adalah sinonim. Apakah yang diperselisihkan dan bagaimana Pesan ini menjadi saksi atas kita?

Isu perselisihan sudah disebutkan tepat diawal Ayat itu. Dengan mengatakan “perjuangan yang sebenar-benarnya pada Tuhan”, maka dari statement tersebut bisa dikatakan juga bahwa ada “perjuangan yang tidak benar pada Tuhan”.

Pesan dari Ayat tadi adalah tentang kita diberi nama “orang yang penuh damai” oleh Tuhan. Pesan ini akan menjadi saksi atas kita dalam perselisihan tentang apa yang mendefinisikan perjuangan sebenar2nya (“jihad”) pada Tuhan melawan perjuangan salah (“jihad”) pada Tuhan. Maka kita tidak boleh membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah seperti yang telah diprediksi oleh malaikat dalam Ayat 2:30 dan mengklaim bahwa yang kita lakukan itu adalah “Jihad kepada Tuhan”. Dengan mendeskripsikan kita sebagai orang yang penuh damai dalam pesan Tuhan, itu akan menjadi saksi atas kita. Dan dengan menjadi orang yang penuh damai, kita pun akan menjadi saksi atas mereka yang tidak ber”jihad” sebenar-benarnya pada Tuhan dan malah membuat kerusakan dimuka bumi serta menumpahkan darah tapi disaat bersamaan, mereka mengklaim sedang ber”jihad” kepada Tuhan.

Banyak kejahatan di bumi dan banyak peperangan dan kehancuran yang terjadi mengatasnamakan berjuang kepada Tuhan. Ini sangat bertentangan dengan tujuan dasar kita yaitu untuk mengabdi kepada Tuhan dengan menjadi pemimpin2 yang baik di muka bumi dan tidak merusaknya juga menumpahkan darah. Dengan hanya satu kata, pesan Tuhan berdiri sebagai saksi tak terbantahkan melawan mereka yang menyebabkan peperangan dan kehancuran sambil mengklaim bahwa mereka sedang berjuang kepada Tuhan.

Karena itulah didalam Al-Qur’an, peperangan hanya diberikan dalam kasus pertahanan diri. Peperangan tidak pernah diberikan untuk menyebarkan agama atau menguasai orang lain. “Deen”/Jalan hidup/sistem kita kepada Tuhan adalah “Islam”/kedamaian. Inilah yang dikatakan kepada orang-orang beriman di Ayat2 seperti 2:193 dan 8:39.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah lagi dan Deen/Jalan hidup/Sistem itu hanya semata-mata untuk Allah (contoh. Kedamaian telah didirikan). Jika mereka berhenti, maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim/aggresor.” (Qur’an  2:193)

Ada banyak implikasi dalam memahami “Islam” sebagai kedamaian. Sekarang kita bisa lihat bahwa perilaku yang trivial seperti memanggil orang lain dengan nama ejekan sangat ditentang dalam Al-Qur’an dan dinyatakan seakan2 sama pentingnya dengan memiliki keimanan. Ini karena perilaku seperti itu tidaklah mempromosikan kedamaian antara orang-orang.

049.011

YUSUFALI: O ye who believe! Let not some men among you laugh at others: It may be that the (latter) are better than the (former): Nor let some women laugh at others: It may be that the (latter are better than the (former): Nor defame nor be sarcastic to each other, nor call each other by (offensive) nicknames: Ill-seeming is a name connoting wickedness, (to be used of one) after he has believed: And those who do not desist are (indeed) doing wrong.

PICKTHAL: O ye who believe! Let not a folk deride a folk who may be better than they (are), not let women (deride) women who may be better than they are; neither defame one another, nor insult one another by nicknames. Bad is the name of lewdness after faith. And whoso turneth not in repentance, such are evil-doers.

SHAKIR: O you who believe! let not (one) people laugh at (another) people perchance they may be better than they, nor let women (laugh) at (other) women, perchance they may be better than they; and do not find fault with your own people nor call one another by nicknames; evil is a bad name after faith, and whoever does not turn, these it is that are the unjust.

KHALIFA: O you who believe, no people shall ridicule other people, for they may be better than they. Nor shall any women ridicule other women, for they may be better than they. Nor shall you mock one another, or make fun of your names. Evil indeed is the reversion to wickedness after attaining faith. Anyone who does not repent after this, these are the transgressors.

DEPAG: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Semua hal ini adalah tentang kedamaian seperti yang bisa diperhatikan dari Ayat 2:132 dan 3:102.

“Dan ini adalah wasiat yang ditinggalkan Ibrahim kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Tuhan telah memilih Deen/Jalan hidup/sistem ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan yang penuh damai” (Qur’an  2:132)

Salam damai kepada semua yang telah membaca artikel ini dan mengikuti Al-Qur’an.

KESIMPULAN

Di dalam media internasional kita sering mendengar banyak kata2 Arab yang tidak ditranslasikan. Contohnya kata2 seperti Islam, Muslim, Islamist, Jihad, Alqaida, dll. Dengan mengambil kata2 tersebut menjadi Nama kepemilikan (Proper Name) atau sebagai Label tidak berarti, mereka yang menyebarkan kerusakan dimuka bumi bisa menempelkan artian apa saja yang mereka inginkan pada kata-kata tersebut. Baik kaum Arab atau Non-Arab banyak yang terkecohkan oleh taktik ini.

Sebagai contoh, ketika kata Jihad disebutkan, gambaran pertama yang muncul dalam pikiran sebagian besar Kaum Arab dan non-Arab adalah perang suci religius. Artian ini menjadi baku walaupun faktanya semua kamus Arab mengatakan bahwa kata “jihad” secara simple artinya adalah “berjuang”. Tentu saja, “berjuang” adalah kata yang positif yang tidak memiliki konotasi negatif dalam pikiran pembaca/pendengarnya. Menjadi orang Arab pun tidak membantu mereka menghindari jebakan ini karena Nama kepemilikan (Proper Name) telah menghalangi arti sebenarnya dari kata tersebut, walaupun kata itu adalah kata Arab.

Seperti yang sudah kita lihat, dengan mengubah suatu kata menjadi Nama kepemilikan (Proper Name), artian baru telah ditempelkan dalam kata yang netral atau positif. Fenomena inipun bisa terjadi terbalik dan karena itu kita juga bisa melihat kata2 Arab dengan artian negatif telah digunakan sebagai nama kepemilikan dimana pembuatnya mencoba membuat kata itu menjadi positif.

Sebagai contoh, ironisnya lawan dari mereka yang berjuang (“al-mujahidun”) didalam Al-Qur’an adalah yang diam (“al-qaidun”) seperti yang bisa dilihat di Ayat 4:95. Mereka yang berbohong kepada Tuhan dan Rasul-Nya dikatakan sebagai orang yang telah diam (“qaid”) di Ayat 9:90. Secara umum kata “qaid” didalam Al-Qur’an memiliki artian “stop/idle/hinder”/”berhenti/diam/mengganggu”. Maka, “qawaid” adalah hal yang membuat sebuah bangunan berhenti runtuh (2:127 dan 16:26) dan “qawaid” juga adalah wanita yang berhenti menginginkan pernikahan (24:60). Kita juga telah mendengar bahwa Keturunan Israel yang tidak mematuhi Musa disebut sebagai yang diam (“qaidun”) di Ayat 5:24. Bahkan Setanpun dideskripsikan sebagai penghalang (“qaid”) manusia dari jalan lurusnya Tuhan (7:16). Dalam bahasa Arab, bentuk feminim memiliki arti yang sama dengan bentuk maskulinnya tapi menambah intensifikasi dari kata tersebut. Maka dalam konteks berjuang, “al-qaida” sebenarnya adalah lawan dari perjuangan pada Tuhan yang sebenar-benarnya dan artinya adalah “yang secara intens diam/yang secara intens menghalangi”.

Siapapun yang memilih nama Alqaida sebagai lambang yang sering kita dengar di berita sebagai simbol dari “extreme Islamic Jihad”, pastilah sangat tidak mengerti tentang Ak-Qur’an dan Arab Klasik. Siapapun yang memilih nama itu jelas-jelas sangat lengah dalam mengkonotasikan kata didalam Al-Qur’an dan fakta bahwa kata tersebut sebenarnya berlawanan terbalik dengan berjuang (“jihad”). Ya, mereka bersiasat dan bersiasat tapi Tuhanlah Maha Pembuat Siasat. Pesan Tuhan akan terus menjadi saksi atas mereka yang mengklaim berjuang kepada Tuhan sambil mengadakan perusakan di muka bumi.

Bagaimana kita berjuang kepada Tuhan dengan perjuangan yang sebenar-benarnya? Jawabannya diberikan di 22:78:

“Dan berjuanglah kamu pada jalan Tuhan dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesulitan dalam Deen (Jalan Hidup/Sistem). ajaran orang tuamu Ibrahim. Dia (Tuhan) telah menamai kamu sekalian orang-orang penuh damai (“al-muslimeen”) dari dahulu, dan dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka teguhkanlah shola/komitmen pembelajaran, laksanakan zaka/pemurnian/perbaikan dan berpeganglah kamu pada Tuhan. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (Qur’an  22:78)

Kita berjuang pada jalan Tuhan dengan perjuangan sebenar-benarnya melalui cara terus menerus meneguhkan komitmen kita kepada Tuhan, terus mempelajari dan mengajarkan orang lain tentang pesan-Nya, membawa perbaikan sebagai lawan dari perusakan di muka bumi, dan berpegang kepada-Nya.

Ini sebenarnya bukanlah benar-benar kesimpulan tapi sebuah usaha untuk terus melangkah maju dalam perjalanan yang jauh. Ini adalah langkah untuk mengembalikan arti sejati dari berjuang pada jalan Tuhan. Kita bisa memulainya dengan mengajarkan orang-orang tentang arti sebenarnya yang telah dibendung oleh penggunaan nama kepemilikan (proper name). Dan suatu saat nanti, “extreme Islamic Jihad/extreme peaceful striving” tidaklah terdengar buruk.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.